Selasa, 30 Desember 2008

Tiga Cinta

Jika ada yang memberi alasan aku hidup, jika ada yang membuat aku bahagia, adalah mereka tiga mahluk yang Tuhan amanahkan padaku. I love you...

Membelakangi Monumen


Usai berenang duduk di depan monumen. Di belakang sana kawan-kawan pada tiduran macam cacing kepanasan. Kawan Nurul iseng memotretku. Dia benar-bemar paham naluri narsisku...hehehehe

Senin, 29 Desember 2008

Segar...


Waktu kecil dulu aku sering berenang di sungai depan rumah. So, berenang merupakan kegiatan favoritku dari dulu. Nah, di pantai Pulau Onrus ini aku seperti menemukan masa kecilku. Di belakang Nurul, kawan yang punya kegemaran sama. Anak Tangerang yang rada gila

Kiki...


Ini Kiki dan aku saat kami terayun-ayun di lautan menuju P Onrus.

Foto-foto Narsis di Onrus


Di Pulau Onrus. Di seberang adalah Pulau Untung Jawa.

Empat Jam di Pulau Onrus



Tanpa rencana aku melancong ke Pulau Onrust. Nama pulau ini barangkali tidak familiar di telingamu. Pulau ini memang tidak populer, padahal menyimpan keindahan yang luar biasa. Pada jaman penjajahan dahulu pulau ini dijadikan sebagai tempat karantina calon jamaah haji. VOC yang membangun pulau ini sebagai tempat pertahanan pada 1711. Luasnya pulau ini tidak sampai 2 hektar. Di sini VOC membangun infrastruktur yang lumayan lengkap. Ada sejumlah gedung, dan pedestrian yang mengelilingi pulau untuk melikmati pemandangan pantai yang indah, berpasir putih. Bangunan-bangunan itu kini telah hancur dan tinggal reruntuhan.

Kau hanya mendapati dermaga kecil, sebuah museum yang berisi sejarah mendaratnya VOC ke pulau ini pertama kali. Pulau ini bagian dari Kepulauan Seribu yang masuk wilayah Provinsi DKI.

Aku dan delapan orang kawan lain menggunakan elf dari Tangerang. Perjalanan diteruskan dengan angkot dari Pasar Kampung Melayu, Teluk Naga. Ini sunguh tidak terduga. Awalnya aku datang ke Tangerang untuk melepas kangen pada kawan-kawan. Esti yang mengajak aku ikut serta melancong ke sana. Lalu aku mengajak lima orang kawan lain. Esti sendiri membawa tiga kawan lain. Jadi kami bersembilan.

Awalnya kami mau ke Pulau Untung Jawa, sebelah Pulau Onrus. Pulau Untung Jawa lebih luas dari Onrus dan sudah banyak penduduknya. Menurut Esti yang pernah ke sana kalah menarik dari Onrus. Jadilah kami ke Onrus. Tidak mudah memang, karena sangat jarang perahu yang ke sana. Kami harus mencarter perahu. Jadilah kami patungan.

Perahu mesin yang kami carter bertolak dari Pantai Tanjung Pasir. Hanya empat puluh lima menit perahu mesin mengantarkan kami ke sana, kami diayun-ayunkan ombak dan semilir angin yang nikmat sebelum mendampar ke Pulau Onrus. Hampir 5 jam kami di pulau yang indah itu. Melihat pantai yang indah aku tak tahan untuk segera menceburkan diri. Ombaknya besar sekali. Aku berenang bersama beberapa pelancong lain. Kawan-kawanku lebih suka memotret dan jalan-jalan menyusuri pantai dan keluar masuk museum kecuali seorang kawan yang menemaniku renang. Sayang aku tidak sampai puas berenang, karena aku harus berbagi waktu untuk juga menyusuri setiap jengkal pulau ini. Seusai makan siang di warung yang ada di sana kami duduk-duduk di monumen atau semacam tugu yang menjelaskan sejarah ini pulau. Kami foto-foto, main tebak-tebakan sambil terus ketawa-ketawa. Lalu jalan lagi menyusuri pantai, main ayunan, menyusuri pantai, memungut lokan dan cangkang kerang. Anis, kawan kami getol banget mengumpulkan cangkang kerang. Untuk aquarium di rumah, kata dia.

Ah, banyak sekali yang tak tertulis di sini…kata-kata barangkali tak berdaya melukiskan kegembiraanku mendapatkan sejumlah pengalaman baru melancong di Pulau Onrust. Kau mau? Ini foto-foto yang kuambil di sana.




Selasa, 23 Desember 2008

Aku dan Rukmi

Aku dan Rukmi, duduk di pelataran pasar seni Ancol, menonton lenong Mpok Nori dan konco-konconya. So, ini sewaktu acara Jilfest

Senin, 22 Desember 2008

JilFest dan Kota Tua (2)

Ahmad Syubbanuddin Alwy. Mungkin kau pernah mendengar nama ini. Dia dulu aktif menulis puisi dan esai. Sekarang pengakuannya masih nulis esai di Pikiran Rakyat, dan rutin menulis kolom sosial politik di Radar Cirebon, koran daerah yang terbit di kota kelahirannya.

Asal tahu saja, Alwy ini adalah seniorku. Waktu belajar menulis puisi semasa aku SMA dulu, dia menjaga rubrik sastra di Mitra Dialog (pernah bernama Pikiran Rakyat Edisi Cirebon). Setelah tidak di Cirebon lagi, aku sebenarnya pernah bertemu di beberapa kali di iven-iven sastra, semisal temu sastra MPU di Anyer, Banten, dan kongres kebudayaan di TMII, Jakarta Timur. Namun kali ini dia begitu hangat dan semangat ngobrol denganku. Bercerita tentang iklim Cirebon. Dia mengundabg aku baca puisi di Dewan Kesenian Cirebon, yang sejak 4 atau lima tahun lalu dia gawangi.

"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Cirebon," pesannya sebelum kami berpisah di resto Hotel Batavia.

Sebetulnya banyak lagi cerita yang bisa kutuliskan seputar pengamalan yang kudapat selama di Kota Tua itu. Tapi mungkin nanti kutuliskan.

Oya, dua atau tiga hari sebelum JilFest, aku dipesan Mas Ahmadun (Redaktur sastra Republika) membuat reportasenya untuk Republika. Hasil reportase itu dimuat Republika, Minggu, 21 Desember. Mau Baca ini dia:

JILFest, dari Politik sampai Spirit Bersastra

Oleh Aris Kurniawan
Cerpenis dan peserta JILfest

Sebuah perhelatan sastra berskala international, Jakarta International Literary Festival (JILFest), yang diselenggarakan atas kerja sama antara Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Cerpen Indonesia, dan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, digelar di Kota Tua Jakarta, pada 11-14 Desember 2008.

Melalui iven ini sekurangnya akan terkabarkan kepada masyarakat sastra dunia bahwa Indonesia memiliki sejumlah sastrawan dan karya-karya sastranya bisa dijadikan salah satu pintu masuk bagi masyarakat dunia untuk memahami budaya dan masyarakat Indonesia.

Iven ini sekaligus menjawab kegelisahan banyak sastrawan Indonesia atas ketiadaan iven sastra berskala international -- tidak sebagaimana di bidang musik, film, dan seni pertunjukan, yang telah lebih dulu memiliki iven internasional di Jakarta.

Ketiadaan iven sastra berskala international berimbas pada rendahnya tingkat pergaulan sastra dan sastrawan Indonesia di manca negara. Diakui atau tidak, sastrawan Indonesia umumnya memang belum dikenal di level international kecuali Pramoedya Ananta Toer.

Sebagaimana diilustrasikan salah seorang pembicara seminar JILFest, Putu Wijaya, ketika mengikuti sebuah festival sastra di Berlin, dia harus dengan sabar menjelaskan pada seorang peserta dari Amerika bahwa Indonesia juga mempunyai banyak sastrawan.

Mengatasi kondisi itu, menurut Putu Wijaya, penerjemahan sastra Indonesia ke dalam berbagai bahasa tidak bisa tidak harus segera dilakukan. Dan, JILfest diharapkan menjadi langkah awal dalam membuka ruang-ruang kerja sama antara sastrawan Indonesia dengan sastrawan negara lain, baik secara lembaga maupun individu.

Pembicara lain, Jamal Tukimin (Singapura), mengatakan prospek penerbitan karya sastra Indonesia di Singapura dan negara-negara Melayu sangat besar. Di singapura, buku-buku terbitan Indonesia sudah masuk sejak Perang Dunia II. Dengan sedikit penyesuaian bahasa (bukan terjemah) buku-buku sastra Indonesia dapat mengisi 75 persen pasar buku sastra Singapura.

Menurut pembicara dari Jepang, Prof Dr Mikihiro Moriyama, buku-buku sastra Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Jepang terbilang masih sangat sedikit. Potensinya yang besar masih belum tergarap maksimal. Melalui iven Jilfest ini kerja sama antara sastrawan Indonesia dan Jepang diproyeksikan dapat ditingkatkan.
Topik seminar

Pada seminar putaran pertama diusung topik Sastra Indonesia di Mata Dunia, menghadirkan pemakalah Dr Katrin Bandel (Jerman), Prof Dr Koh Young Hun (Korea), Dr Maria Emilia Irmler (Portugal) dan Prof Dr Abdul Hadi WM (Indonesia).Katrin menyoroti politik sastra yang dilancarkan Komunitas Utan Kayu (KUK) di Eropa.

Hasil sorotan Katrin mengungkapkan bagaimana KUK mencitrakan Indonesia sebagai bangsa yang tiranik, radikal, dan intoleran terhadap keragaman untuk 'menjual' Ayu Utami, salah seorang eksponen KUK, di Eropa.Sebegitu penting rupanya pengakuan international bagi sastrawan Indonesia sehingga cara apapun (baca: pembohongan) harus ditempuh untuk mendapatkannya. Mengapa ini terjadi? Katrin menengarai sastrawan Indonesia punya kepentingan besar untuk dikenal di Eropa.

Berkait soal politik sastra, Abdul Hadi WM mengatakan bahwa bagaimana pun kerasnya upaya sastrawan Indonesia mengenalkan diri kepada dunia tidak akan mencapai hasil maksimal tanpa kemauan politik pemerintah dalam sistem pengajaran sastra Indonesia di sekolah.

Pembicara dari Perancis, Henry Chambert dan Stevan Danarek (Swedia), menyarankan perlunya upaya yang sangat keras bagi masyarakat sastra Indonesia untuk menuju ke Nobel Sastra, bukan semata dengan cara kekuatan karya sastra itu sendiri melainkan dengan strategi lain seperti penerjemahan dan diplomasi budaya.

Dia mencontohkan bagaimana Pramoedya Ananta Toer gagal meraih Nobel meski sudah masuk nominasi Nobel selama dua puluh enam kali. Upaya-upaya itu bagi Budi Darma adalah berupa peran Indonesia di bidang-bidang lain di luar sastra seperti ekonomi, politik, sosial, teknologi, dan kekuatan militer dalam pentas dunia. Bagaimana dunia akan melirik sastra Indonesia apabila mereka tidak memiliki referensi tentang Indonesia.

Acara lain
Selain seminar, JILFest 2008 diisi lomba penulisan cerpen berlatar Jakarta, pertunjukan sastra, bazar buku, workshop penulisan cerpen dan puisi, workshop musikalisasi puisi dan wisata budaya.

Lomba menulis cerpen berlatar Jakarta diikuti 360 peserta dari pelosok tanah air dan luar negeri. Kali ini dimenangi cerpen berjudul Selendang Cokek untuk Ayuni karya Floreance Sahertian (Sidoarja), disusul Pieter Akan Mati Hari Ini karya Deny Prabowo (Depok, Jabar), Pelangi Nusantara karya Sigid W (Palembang), Klinik Putih di Ujung Rel Kota Tua karya Thowaf Zuharon (Jakarta), Lelaki Tua di Bangku Taman karya Irene Rahmawati (Kebumen), dan Kereta Nyanyian karya Akidah Gauzillah (Jakarta).

Kegiatan workshop musikalisasi puisi, penulisan puisi, dan cerpen masing-masing digelar di Museum Wayang, Museum Seni Rupa, dan Museum Sejarah, dengan pemateri Agus R Sarjono dan DR Suminto A Sayuti untuk puisi, Helvy Tiana Rosa dan Shoim Anwar untuk cerpen, serta Tan Lio Ie dan Ane B'Neh untuk pertunjukan puisi. Workshop diikuti sekitar 400 pelajar SMA, mahasiswa, guru dan umum.

JILfest 2008 dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta H Fauzi Bowo di Museum Seni Rupa. Fauzi menorehkan kalimat pertama puisi tentang Jakarta dan diselesaikan oleh Taufiq Ismail. Fauzi lantas membacakan puisi itu, disusul Taufiq Ismail dan penyair Jerman Martin Jankowski. Acara pembukaan disudahi dengan pergelaran wayang Betawi di Museum Wayang.

Pertunjukan sastra utama digelar di Museum Sejarah dan pentas sastra penutup digelar di pelataran Pasar Seni Ancol dengan pemandu Nur Hayati (Pusat Bahasa) dan penyair Ahmad Syubbanuddin Alwy. Antara lain, menampilkan penyair D Zawawi Imrom, Asrizal Nur, Jose Rizal Manua, Diah Hadaning, Rukmi Wisnu Wardani, baca cerpen Putu Wijaya dan musikalisasi puisi Sanggar Matahari.Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta, Pinondang Simanjuntak, didampingi ketua panitia pelaksana JILFest Ahmadun YH, pada sambutan penutupan mengatakan akan mendukung penyelenggaraan JILfest sebagai iven dua tahunan.

Hal senada dikatakan Fauzi Bowo pada sambutan pembukaan. Keduanya percaya peran penting sastra dalam ikut menciptakan kehidupan yang damai sekaligus memberi identitas bagi Jakarta sebagai ibukota negara.Hampir semua peserta JILFest, antara lain Inggit Putria Marga, Fikar W Eda, Chavcay Syaefullah, Sihar Ramses Simatupang, Mustofa W Hasyim, Imam Ma'arif, Irman Syah, Micky Hidayat, Khoirul Anwar, Ibnu PS Megananda, SM Zakir, Mohamad Saleh Rahamad, dan Dinullah Rayes, ambil bagian untuk membacakan sajak-sajak mereka pada pentas penutupan. Acara penutupan ditandai penandatangan back dropp oleh Pinondang Simanjuntak dan Ahmadun YH, diikuti seluruh peserta. Sampai jumpa pada JILFest 2010!

JilFest dan Kota Tua (1)

Peristiwa itu sudah lewat sepekan lalu.

Aku sudah beberapa kali lewat Kota Tua ini. Namun baru sepekan lalu itulah aku baru betul-betul tahu ini rupanya Kota Tua. Di Hotel Batavia, sebuah hotel bintang empat atau lima, sebuah perhelatan yang konon berskala internasional bertajuk Jakarta Lierary Festival 2008 digelar. Acara inilah yang membuatku datang dan menyusuri Kota Tua ini. Aku merasa jalan-jalan di Belanda... hehhehe.

Selain mengikuti seminar di ballroom Batavia Hotel yang megah itu, aku jalan-jalan ke sejumlah museum. Mulai museum seni rupa, museum sejarah, sampai museum wayang. Ada pelataran dengan lampu-lampu yang dipasang datar dengan lantai. Kalau malam sinar lampu yang warna warni itu memendar ke atas menerpa orang-orang yang berjalan di pelataran itu. Kalau di Belanda pelataran semacam ini banyak didatangi burung-burung yang berebut remah roti yang ditabur para pelancong. Di Kota Tua ini. Tidak ada burung-burung yang ramai berebut remah roti, apalagi hinggap di bahu para pelancong. Tempatnya kurang terawat. Gedung-gedungnya juga.

Di acara ini aku ketemu dengan banyak penulis, mulai Inggit Putria Marga yang ternyata berbodi ramping namun seksi. Ada juga Rukmi Wisnu Wardani. Dia ini cantik, tapi tubuhnya besar yang di mataku tidak sesedap Inggit. Aku juga ketemu Alwi.