Senin, 16 November 2009

Sakit

Saya mendengar kabar itu suatu pagi saat sedang berdiri menanti di halte bis TransJakarta. Dia masuk rumah sakit. Ginjalnya infeksi. Kupikir karena perilaku hidupnya yang kurang peduli pada keseimbangan. Kalau sedang bekerja, dia tahan berjam-jam duduk menghadapi laptopnya. Dari pagi sampai magrib, dan terus nyambung menjelang pagi lagi. Tak makan dan minum kecuali beberapa cangkir kopi dan berbungkus-bungkus rokok. Dia hanya akan beranjak untuk buang air ke belakang. Tempat duduknya itu bukan kursi yang ada busanya dan bisa berputar mengikuti gerakan badan. Melainkan lantai keramik tanpa alas. Laptopnya dia letakan di meja berkaki pendek—dengan mengepung meja ini pula kami biasa menggelar rapat rutin mingguan. Sambil kadang-kadang kalau merasa pegal dia selonjorkan kakinya di kolong meja dan dia sandarkan punggungnya ke dinding yang membatasi ruang tengah dan ruang depan kantor kami yang mungil, dia mengerjakan tugas-tugasnya dengan khusu’. Aku sering mengingatkannya supaya jangan terlampau keras bekerja. Dia cuek, malah kadang meledekku dengan bertingkah lucu yang bikin aku terkekeh sampai perutku mulas. Kalau sudah melucu, sumpah mati dia lebih lucu dari pelawak manapun. Bukan lantaran bentuk tubuh dan mukanya yang bulat, melainkan spontanitas joke-jokenya yang segar dan cerdas. Kalau dia pelawak, dia bukan jenis pelawak yang kerap kau lihat di televisi yang gemar menjadikan kekurangan fisik sebagai bahan lawakan, slapstick dan bodoh. Selain melucu, untuk sedikit mengurangi ketegangan dia kadang memutar film-film porno yang dia unduh secara gratis dari situs-situs porno. Biasanya aku diajak menemani nonton. Tentu aku kegirangan menerima ajakan tersebut.

Aku bayangkan sekarang dia terbaring lemah dengan wajah dan sekujur tubuh bengkak lantaran ginjalnya terganggu. Terus terang aku merinding mengingat bayangan-bayangan buruk yang tiba-tiba berkelebatan di kepalaku. Rasanya aku tak siap berpisah dari dia. Bagiku dia bukan sekadar kawan, bukan sekadar saudara seperjuangan, guru spiritual se-ideologi—demikian kalau boleh disebut. Kami begitu dekat. Kaupikir apa yang kaurasakan manakala karibmu diterjang penyakit yang terbukti banyak menyeret korban?

Tapi rupanya, aku salah menyimak kabar. Bukan dia yang ginjalnya terserang infeksi, melainkan anaknya. Ya Tuhan! Beberapa bulan lalu, dia cerita anak sulungnya jatuh dari sepeda. Izam, demikian nama anak sulungnya itu, bersepeda dengan tangan tak memegang stang (ah, anak-anak memang banyak ulahnya!). sepeda meluncur dan menabrak batu. Insiden ini menyebabkan tulang kering kaki kanannya retak. Namun, berkat pengobatan alternative, tulang keringnya yang retak dapat dipulihkan seperti sedia kala. Aku pikir sakit ginjalnya tersebut ada kaitannya dengan insiden jatuh dari sepeda tadi. Rupanya tidak.

Ketika aku datang menjenguknya di rumah sakit, dia bercerita tiga hari lalu anak sulungnya bengkak-bengkak. Maka dibawalah ke klinik untuk dicek. Hasil tes laboratorium ginjal anak itu terserang infeksi.

“Saya benar-benar shock. Mentalku down,” ujar dia saat menyusuri koridor rumah sakit, menuju masjid untuk menunaikan salat magrib. “Saya belum tahu apa yang harus saya lakukan seandainya dia harus cuci darah tiap minggu,” ujarnya, getir. Tapi saat itu kondisi mentalnya sudah lebih baik. Karena menurut pemeriksaan dokter, secara umum kondisi ginjalnya masih baik. Hanya terserang bakteri yang menyebabkanya infeksi. Dia harus berobat jalan sekurangnya selama 6 bulan untuk memulihkan ginjalnya. Dan selama proses berobat jalan itu dia tidak diperkenankan makan makanan yang mengandung garam dan penyedap rasa lainnnya.

Bisa kaubayangkan. Sedangkan kau saja yang dewasa tak tahan makan tanpa penyedap, bagaimana bocah sekecil itu? Ya, Tuhan! Saya tahu persis, dalam perkara menjaga kebersihan, kawan saya itu sangat disiplin. Ini tentu pula diajarkan pada anak-anaknya. Jadi dari mana bakteri itu menyerbu masuk dan mengganggu ginjalnya?

Bahasa kedokteran kadang memang tidak nyambung dengan fakta yang kita lihat secara kasat mata. Bukankah sering kau melihat anak-anak yang hidup di jalanan, terpapar debu sepanjang waktu, bernafas di antara gunungan sampah. Tapi kaulihat mereka tampak baik-baik saja. Memang tidak gampang memahami semua (baca: takdir) ini. Tak urung fakta ini memberikan pelajaran bagiku untuk mensyukuri nikmat kesehatan. Uang boleh kurang (kalau boleh memilih tentu uang banyak dan kesehatan prima!), tapi mohon limpahilah kesehatan. Tentu, menjaga kesehatan membutuhkan perjuangan, sekurangnya perjuangan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Baik bersih lahir maupun batin. Aku sampaikan ini kepada istriku lewat telepon.

Dilema

Karib saya, asisten wakil walikota, tiba-tiba menelpon saya suatu pagi. Ini agak surpraise mengingat cukup lama juga kami tak berjumpa dan melakukan kontak kecuali saling menulis komentar bernada ledek-ledekan di dinding facebook. Dia bertanya tentang pekerjaan saya sekarang. Buntutnya dapat diduga, dia menawarkan pekerjaan pada saya.

Begitulah, hari berikutnya saya menemuinya di sebuah kafe. Dia tampak makin gemuk dan bersih. Dia datang bersama istrinya yang juga teman saya. Maksud saya, saat mereka masih pacaran, keduanya adalah kawan saya. Dulu kami bersama-sama membuat acara pementasan dan diskusi. Kawan saya itu juga jago di bidang manajemen marketing. Dia pernah bekerja sebagai marketing sebuah harian lokal. Sambil menikmati kopi dan mengunyah donat, dia menjelaskan posisinya saat ini.

Saat pilkada beberapa bulan lalu, dia merupakan tim sukses calon wakil walikota yang sekarang memenangi pilkada. Dia duduk sebagai konseptor kampanye. Termasuk menulis konsep pidato calon wakil walikota. Akibat dari kemenangan calon wakil walikota tersebut kini dia diangkat sebagai asisten wakil walikota.

Meskipun dia asisten wakil walikota, pada prakteknya dia lebih sering ngantor di kantor perusahaan milik sang wakil walikota. Bahkan kawan saya itu dipercaya mengurusi ‘kerajaan’ bisnis wakil walikota. Belum jelas bagi saya, apakah dia asisten pribadi Zulfikar—sebut saja demikian nama sang wakil walikota tersebut, artinya bekerja untuk pribadi Zulfikar dan oleh karenanya digaji pakai uang pribadi Zulfikar yang kebetulan menjadi wakil walikota), atau dia asisten pribadi wakil walikota (artinya bekerja membantu pekerjaan wakil walikota berkaitan dengan tugas-tugas sebagai wakil walikota, dan dengan demikian digaji oleh pemerintah). Jika kawan saya bekerja sebagai asisten pribadi wakil walikota dan oleh karennya digaji oleh pemerintah, namun bekerja di kantor perusahaan Zulfikar, tidakkah ini namanya korupsi? Semoga kawan saya tidak demikian.

Semoga dia adalah asisten pribadi Zulfikar, karena kawan saya berkantor di perusahaan Zulkfikar—dan tentu saja digaji pakai uang pribadi Zulfikar (bukan pakai uang pemerintah).

Kawan saya tersebut menawarkan pada saya pekerjaan sebagai humas di salah satu perusahaan milik Zulfikar yang tak lain sang wakil walikota. Inilah dilema yang sekarang saya hadapi.

Rabu, 11 November 2009

Pengantar untuk Menyusuri Malam Kafe-Kafe

Melalui telepon, penyunting cerpen-cerpen saya yang dalam proses diterbitkan menjadi buku, meminta saya membuat sekadar pengantar untuk buku dimaksud. Bagi saya, ini sebenarnya bukan permintaan yang tidak terlalu gampang dikabulkan. Tapi apa perlu sebuah pengantar? Perlu, dia bilang. Beberapa bulan sebelumnya, ketika menerbitkan buku cerpen saya masih berupa gagasan, bahkan saya telah membuat semacam pengantar. Hanya dia bilang, pengantar yang pernah saya buat kontra-produktif. Jadi saya harus menulis pengantar yang berbeda. Saat ini gagasan tersebut hampir mewujud. Penyunting telah memilih 17 dari sekitar 70-an cerpen saya, dan tinggal mencari ilustrasi untuk cover, lalu masuk tahap lay out. 17 cerpen saya yang telah dipilah semuanya bertema kafe (atau sekurangnya tokoh-tokohnya bersinggungan dengan kafe). Hmm, inilah pengantar itu.

Bukan Sekadar Kafe
Kafe. Kata ini makin akrab di telinga masyarakat urban. Kafe, meski Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat, belum memasukkan kata ’ kafe ‘ ini sebagai kata serapan dari bahasa Inggris yang bermakna warung kopi , tapi masyarakat tampaknya telah maklum bahwa kafe adalah warung yang menjual minuman ( kopi) sebagai menu utama. Saya tidak akan mengurai bagaimana kata kafe ini diterima begitu saja oleh masyarakat kita. Melainkan, betapa minum (kopi) di kafe tiba-tiba menjadi sebuah gaya hidup kaum urban. Kafe tumbuh pesat, baik di pusat-pusat keramaian, seperti mal, tempat-tempat hiburan, stasiun, termasuk di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), maupun di pinggiran kota yang tidak terlalu ramai. Iklan kafe meruyak di mana-mana, dengan pelbagai tawaran potongan harga yang menarik.

Kafe tiba-tiba menjadi pusat pergaulan masyarakat perkotaan. Ia menjadi pusat yang melahirkan kebudayaan baru. Kafe bukan sekadar tempat minum kopi, melakukan pertemuan, ngobrol ke sana kemari menghabiskan waktu sebagaimana orang-orang desa memperlakukan warung kopi di masa yang belum terlalu jauh berlalu.

Kafe kini menjadi tempat pertemuan politik, membicarakan strategi bisnis, press conference dan sebagainya. Bahkan sebagian orang menjadikan kafe sebagai “kantor” tempatnya bekerja. Laptop dan telepon genggam, dua perangkat modern yang memungkinkan orang memindahkan “kantor”nya di mana saja seakan makin mensahkan bahwa kafe bukan sebagai tempat untuk semata bersantai sambil merokok, minum kopi dan bergosip. Melainkan untuk bekerja dan membicarakan hal-hal yang serius. Orang berjam-jam berkutat dengan laptopnya sambil minum kopi di kafe menjadi pemandangan yang makin menjamur dan lazim. Ditambah dengan booming-nya internet, pengelola kafe bahkan menawarkan internet gratis sebagai bagian dari promosi untuk menggaet pengunjung.

Dari kebudayaan baru yang tumbuh dalam kehidupan kafe semacam di atas, semesta kafe kemudian memantulkan penggalan-penggalan potret kisah manusia kafe. Baik yang romantis, tragis, menggelikan, mengharukan, mencemaskan, dan sebagainya. Inilah yang memicu gagasan saya menulis cerpen-cerpen dengan setting café, atau sekurangnya tokoh-tokohnya bersinggungan dengan kafe atau atmosfer dan gaya hidup yang diproduksinya. Sudah sangat banyak memang novel maupun cerpen yang mengambil setting kafe. Salah satu novel termashur Najib Mahfud, novelis Mesir peraih Nobel , bahkan menggunakan kata kafe sebagai tajuknya. Tapi, kafe atau apa pun, tentu saja— bagi pengarang yang keras kepala untuk tetap mengasah kepekaannya— akan terus menerus memunculkan gagasan-gagasan baru yang bisa unik, bisa menarik, yang dapat diolah menjadi sebentuk cerita.

Di luar cerpen-cerpen ‘kafe’ yang saya tulis di buku ini, sebenarnya ada banyak cerpen ‘ bukan kafe’ yang saya tulis. Karena saya memang tidak mengususkan diri menulis cerpen-cerpen tema kafe. Bahkan, sebaliknya, saya tidak sadar bahwa ternyata saya banyak menulis cerpen-cerpen bertema kafe. Kesadaran itu tiba setelah Iwan Gunadi, penyunting buku kumpulan cerpen ini, mengumpulkan, membaca, dan memilihkan cerpen-cerpen saya berdasarkan tema. Mungkin ini terjadi lantaran pada suatu masa yakni saat saya menjadi wartawan media hiburan, saya cukup akrab dengan kafe. Maksudnya, saya sering bersinggungan dan menjadi bagian dari manusia kafe.

Entahlah, yang jelas diam-diam saya memang terobsesi dengan kafe meskipun saya tidak suka minum--terutama-- kopi hitam. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan terkasih yang memungkinkan terbitnya buku kumpulan cerpen saya yang kedua ini. Mereka adalah Iwan Gunadi, Teguh Turisman, Bagja Wiadi, Eko Sumardi, dan sejumlah kawan lain yang terlalu panjang jika saya sebutkan dalam pengantar singkat ini.

Kamis, 29 Oktober 2009

Uang Kuno dan Kota Tua


Kau telah menyiapkan keberangkatan itu sejak malam. Kemeja batik yang belakangan kaugandrungi membungkus tubuh pipihmu, dipadu jins belel andalan semata wayang. Perangkat kamera yang membikin tasmu menggembung nyangkruk manis di punggungmu. Berdesakan dalam bus TransJakarta, orang sering keliru menyebutnya busway, kau merasakan debaran yang tidak biasa. Semacam perasaan gembira. Barangkali inilah liputan yang menyenangkan dan membuatmu tak sabar.

Numismatik. Hmm, kau jarang mendengarnya ‘kan? Kau harus googling lebih dulu untuk yakin dengan apa yang kaupahami tentang kata tersebut. Ini membuatmu nyaman manakala duduk dipojokan mendengar para pembicara menguraikan pengetahuannya perihal numismatik. Sejarah keberadaan uang dalam peradaban manusia. Uraiannya cukup menarik dan lengkap. Satu kesimpulan naïf mendadak muncul di kepalamu, sejak lahirnya uang telah menjadi berhala. Ia bukan sekadar menjadi alat tukar, melainkan menjadi benda yang menarik minat banyak orang menimbunnya.

Client-mu memberi kabar perihal acara ini semalam: seminar “Serba Serbi Numismatik: Pembelajaran Numismatik, Koleksi dan Pengelolaannya”. Judulnya terdengar sangat teknis dan berbau pemerintah. Ah, ini memang tidak penting. Bahkan mungkin seluruh acara ini tidak penting buatmu. Yang penting adalah lokasi di mana acara itu digelar: Musium di Kawasan Kota Tua. Musium dan kota tua selalu membuatmu terobsesi. Mungkin kau orang yang romantis: menyusuri sejarah masa silam dan membayangkan hidup di dalamnya lantaran hidup yang kaujalani hari ini teramat menyebalkan.

Numismatis, seperti kolektor benda lain, ke mana-mana memburu uang kuno. Uang kuno bikin kecanduan. “Seperti narkoba” ujar Wisnu Baskoro, seorang kolektor uang kuno yang menjadi pembicara dari Asosiasi Numismatik Indonesia. Kau mulai gelisah manakala pembicaraan menyinggung nasionalisme. Sebuah kata absurd yang membuatmu tak habis pikir bagaimana kata itu ada dalam kamus bahasa. Kau ingin lekas-lekas keluar, lalu nglayap ke seluruh ruang yang mungkin dapat kaujangkau di dalam gedung museum. Mengajak client-mu ke gedung-gedung tua lainnya di kawasan Kota Tua untuk berfoto-foto ria. Namun kau harus kecewa. Client-mu yang jelita hanya bisa menemanimu menyusuri ruang-ruang di dalam museum. Jadilah kau sendirian nglayap di antara bangunan-bangunan masa lalu yang mengabarkan kejayaan penjajah. Hmm…






Inilah reportasi singkat seminar itu…

Melacak Sejarah dan Identitas Bangsa melalui Numismatik
Uang bukan sekadar alat pembayaran dalam aktivitas bertransaksi. Lebih dari itu, uang adalah benda yang menunjukkan identitas bangsa. Serta menguatkan nasionalisme. Inilah antara lain yang mengemuka dalam seminar “Serba Serbi Numismatik: Pembelajaran Numismatik, Koleksi dan Pengelolaannya” yang digelar di Museum Bank Indonesia, Kawasan Kota Tua, Selasa (27/10).

Puji Harsono dari Asosiasi Numismatik Indonesia, yang hadir menjadi pembicara, dalam pemaparannya menjelaskan, keberadaan uang di bumi Nusantara dapat dilacak sejak zaman kerajaan Hindu Budha sekitar tahun 850-1300 Masehi. Kerajaan Mataram Syailendra tercatat sebagai kerajaan pertama yang mencetak uang dalam bentuk koin. Materi yang digunakan pada masa itu ada dua, yakni emas dan perak.

Sedangkan uang yang dicetak dengan materi dasar kertas, menurut Alim A Sumana, pembicara kedua, ditemukan pada masa imprealisme armada dagang Belanda, VOC, sekitar tahun 1659 di Pulau Banda. Inilah uang kertas pertama di dunia. Corak dan desain uang yang dicetak pada setiap masa tersebut memperlihatkan identitas bangsa yang bersangkutan. Maka, kata Wisnu Baskoro, pembicara berikutnya, uang mampu menjadi alat untuk menggali sejarah masa lalu sebuah bangsa. Inilah antara lain yang mendorong sebagian orang melakukan kegiatan numismatik atau mengoleksi uang kuno. Dan di sinilah antara lain peran penting Musium Bank Indonesia. Mengoleksi benda-benda kuno yang berkaitan dengan sejarah alat pembayaran, untuk melihat perjalanan sejarah Bank Indonesia sebagai lembaga yang mencetak dan mengedarkan uang di Indoensia. Seperti ditegaskan Purnomo dalam kata sambutan pembukaan seminar, bahwa keberadaan Musium Bank Indonesia adalah media untuk mengedukasi masyarakat ihwal segala hal yang terkait dengan uang dan sejarah Bank Indonesia.

“Kita banyak membuat program yang bersifat game dan banyak lagi untuk menarik meningkatkan minat masyarakat berkunjung ke Musium Bank Indonesia,” kata Purnomo dalam wawancara dengan Majalah Nuansa di saat jeda seminar. Dalam melakukan program-program tersebut pihaknya antara lain kerja sama dengan Komunitas Historia Jakarta. Sebuah komunitas anak-anak muda yang punya perhatian pada sejarah, termasuk sejarah uang dan Bank Indonesia. Sampai saat ini minat dan pemahaman masyarakat terhadap Musium Bank Indonesia masih kecil. Itu pun masih dalam tahap pemahaman sebagai wisata. Bukan penelitian untuk mengetahui sejarahnya secara lebih serius. Tapi, ke depan diharapkan masyarakat makin menganggap penting untuk mengetahui sejarah BI melalui Musium Bank Indonesia.

Menanggapi penanya perihal banyaknya numismatik Indonesia yang menjual koleksinya ke luar negeri, Yosefin Tyas Emmy dari Musium Bank Indonesia, pembicara keempat, pada kesempatan tersebut mengatakan, BI tidak punya anggaran besar utuk membeli uang-uang kuno. Karena fungsi pokok BI tidak di sana. Keberdaan Musium Bank Indonesia hanya sebagai pendukung. “Kami tentu mengharapkan masyarakat menjaga uang kuno yang dimilikinya. Tidak menjualnya ke luar negeri.

Nilai jual benda-benda numismatik memang menggiurkan. Tapi Wisnu Baskoro yakin semangat nasionalisme di kalangan numismatik Indonesia cukup tinggi. Seperti harapan seorang penanya dan kita semua tentu, jangan sampai kita harus belajar ke luar negeri untuk mengetahui sejarah uang yang pernah diterbitkan di bumi Nusantara ini.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Cinta Empat Bab: Intrik di Dunia Penulisan


Kau adalah penulis. Kau akan merasa bahagia jika tulisanmu dimuat di media. Sekurangnya ada tiga hal yang membuatmu bahagia. Pertama, tulisanmu dibaca orang; kedua eksistensimu sebagai penulis diakui (setidaknya oleh redaktur media yang memuat tulisanmu) dan; ketiga memperoleh honorarium (meski kadang tidak sebanding dengan kerja kerasmu menulis ). Bohong besar jika ada penulis yang mengatakan bahwa dia menulis bukan untuk dibaca orang. Persoalannya menembus media massa (apalagi media besar) bukan perkara mudah, apalagi untuk para pemula.

Awal-awal menulis pada masa SMA dulu, saya punya sejumlah teman yang tulisannya mengalami penolakan terus menerus dari redaktur. Kirim lagi, ditolak lagi. Mereka putus asa, dan dengan kesal bilang sang redaktur tidak fair menilai tulisannya. Lantas mereka menuduh sang redaktur hanya memuat tulisan orang-orang yang berada dalam lingkaran (circle) dia. Mereka tidak percaya lagi dengan media. Bagi mereka dunia penulisan tak ubahnya dunia politik yang penuh intrik.

Ingatan inilah yang menyembul dalam pikiran saya saat membaca “Cinta Empat Bab”-nya Hermawan Aksan. Intrik-intrik dalam dunia penulisan yang dituduhkan kawan-kawan masa remaja saya seakan menemukan pembenarannya. Ita, dengan kekuasannya sebagai redaktur budaya sebuah media massa, seakan bisa mengatur nasib calon penulis. Dia menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dia dalam memuaskan kegemarannya bertualang cinta. Jon dan Yus adalah dua dari sekian banyak korbannya.

Demi tulisannya dimuat Yus rela menjadi selingkuhan Ita setelah perempuan itu merasa tak mungkin melanjutkan hubungan asmaranya dengan Jon. Di pihak lain Jon mengabaikan perhatian Nin, gadis yang memuja tulisan-tulisannya, dan terus mengharapkan Ita. Pada saat yang sama Nin berusaha menjauhi Yus yang diam-diam mendambakan Nin yang ternyata putri sang redaktur: Ita.

Gagasan yang diangkat novel ini sebenarnya cukup menarik dan punya potensi menjadi cerita yang sangat kompleks. Namun, dengan hanya terdiri dari empat bab, yang setiap babnya (rata-rata 30 halaman) dituturkan oleh empat tokoh berbeda, cerita jadi tak bisa bergerak leluasa dan pembaca kehilangan kesempatan melewati jalan-jalan curam penuh kelokan nan menegangkan. Dan lebih banyak menyuguhkan romantisme dunia penulisan yang hari-hari ini mungkin tidak relevan.

Tak banyak novel yang mengangkat seputar sisik melik dan intrik di dunia penulisan di Indonesia. Dengan adegan pembuka yang penuh aroma cerita detektif yang mampu membetot pembaca, semula saya hati saya berdebar-debar dipenuhi harapan novel ini akan mampu menghadirkan sisik melik dan intrik dalam dunia penulisan secara seru dan menarik. Harapan saya hampir saja terbukti seandainya cerita tidak dibelokkan ke persoalan cinta dan perselingkuhan. Saya menduga Hermawan melakukan hal tersebut lantaran persoalan cinta ini sebagai pilihan ia lebih sederhana dan tidak menuntut kerumitan, ketimbang intrik dan politik dunia penulisan. Namun karena menghindari kerumitan itulah cerita kemudian menjadi mudah kehilangan daya kejutnya. Menulis soal intrik politik di dunia penulisan memang memerlukan riset yang sabar dan mendalam. Sayangnya, novel ini tampaknya kurang dalam menggali tema itu kecuali dari pengalaman pribadi dan imajinasi pengarangnya belaka.

Dari sisi editing novel ini tampaknya digarap secara tergesa. Terlihat misalnya pada kalimat gang sempit, berliku-liku, kotor dan bau dan…dengan pemandangan berantakan khas kampung kumuh di tengah kota. Kalimat ini muncul secara berulang pada halaman 49 dan 63. Terdapat pula kalimat yang mendikte misalkan: wajah-wajah mereka memancarkan khas pengangguran. Kalimat ini bagi saya terlalu aus untuk mendeskripsikan kondisi fisik pengangguran yang penuh derita kemiskinan, kekumuhan..

Buku ini selain menampilkan novel pendek tersebut, memuat sejumlah cerpen Hermawan yang ditulis pada periode 1991-2000. Serta sebuah cerpen berlatar pewayangan yang dianggit pada 2007. Cerpen-cerpen Hermawan yang banyak mengangkat setting pedesaan dengan segala problematikanya menyarankan kebersahajaan yang enak dinikmati. Alam dan orang-orang pedesaan tidak selalu lekat dengan ketulusan dan kejujuran. Melainkan juga penuh intrik. Gaya berceritanya yang sederhana namun kuat dalam mendeskripsikan alam pedesaan mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Ahmad Tohari yang terhimpun dalam Senyum Karyamin dan Kuntowijoyo dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.

Rabu, 30 September 2009

Pembauran dan Pembaruan Kesenian Tradisi

Barongsai. Kau tentu mengenal kesenian tradisional yang berasal dari daratan China ini. Singa barong? Burok? Singa barong berasal dari Subang dan daerah Sunda lainnya. Sedangkan burok mungkin agak asing jika kau bukan orang Cirebon. Menyebut burok kau mungkin teringat peristiwa Isra Mi’raj. Rasul Muhammad pernah mengendarai burok saat melakuan perjalanan yang dikenal dengan Isra Miraj. Ia sejenis ‘binatang’ berkaki empat, punya sayap, berkepala manusia secantik bidadari yang dilengkapi dengan mahkota berkilauan. Nah, kendaraan Rasul Muhammad ini rupaya menginspirasi masyarakat Cirebon ketika mereka menciptakan kesenian burok ini.

Sampai sekarang kesenian burok masih marak ditanggap masyarakat Cirebon kala hajatan menyunat anak lelaki mereka. Pengantin sunat naik di punggung burok dengan tangan berpegangan pada leher burok yang jenjang atau sayapnya yang gemerlapan. Burok akan bergerak-gerak, berjoget menghentak mengikuti irama lagu dari para sinden. Jika dulu lagu-lagu yang mengiringi adalah bernuansa religi, kemudian lagu-lagu khas cirebonan dengan alat musik sederhana yakni gitar dan suling. Maka kini sinden-sinden akan mengiringi kesenian burok dengan lagu-lagu dangdut yang tengah hit. Dan burok pun berjoget secara lebih ekspresif dan atraktif.

Kini kesenian burok rupanya telah mengalami ‘pluralisme’ juga. Rombongan kesenian burok yang ditanggap sepupuku saat sunatan anaknya usai lebaran kemarin, tidak hanya menyajikan burok. Mereka juga memiliki singa barong dan barongsai. Jadi ketiga kreasi seni yang berasal dari tradisi dan budaya yang berbeda ini tampil dalam saat dan panggung yang sama. Pengantin sunat secara berganti-ganti duduk di atas punggung singabarong, burok dan barongsai. Tapi tentu saat sang barongsai melakukan atraksi jumpalitan pengantin sunat tidak diperkenankan berada di punggungnya.

Sebagaimana burok, barongsai versi Cirebonan ini pun dimainkan hanya oleh dua orang. Barongsai yang merupakan perwujudan dari singa dan ular naga ini panjangnya pun jadi tidak sampai tiga meter. Para pemainnya bukan orang-orang bermata sipit, melainkan masyarakat Cirebon yang umumnya berkulit coklat tua. Barongsai bergerak, menari, melakukan atraksi dengan iringan musik cirebonan, bukan tambur, simbal dan kenong sebagaimana aslinya. Pembau-ran kesenian tradisonal ini sangat menarik untuk dilihat sebagai upaya kita memraktikkan demokrasi, pluralitas, dan merayakan perbedaan. Bukan hanya kesenian barongsai yang harus melakukan adaptasi-adaptasi, singabarong dan burok pun terus menerus melakukan penyesuaian-penyesuaian. Sayangnya saya tak membawa kamera untuk merekam sehingga kau tidak bisa melihatnya secara kongkrit.

Minggu, 13 September 2009

Tidak Mudah Jadi Indonesia

Ketika kemarahan orang ramai kepada Malaysia belum lagi reda lantaran negeri tetangga itu mengklaim kekayaan budaya (bukan sekadar seni—seni hanya bagian kecil dari budaya), mendadak teman saya mengajak ke acara pemutaran dan diskusi film Malaysia. Ajakan itu dikirim via sms pada suatu sore yang panas dan melelahkan. Meski lelah dan malas keluar lantaran pasti macet, saya paksakan datang juga. Bukan tak kuasa menampik ajakan kawan tersebut, melainkan karena film Malaysia. Acara itu digelar di studio Eksotika Karmawibhangga Indonesia, Manggarai. Tapi sayang saya hanya kebagian diskusi, sesi pemutaran film telah lewat lantaran saya datang telat. Seperti sudah saya duga taksi yang saya tumpangi dikepung macet.

Jadilah saya hanya menyimak diskusi. Dari pembicaraan saya menyimpulkan bahwa film-film Malaysia lebih maju ketimbang film Indonesia. Ukurannya film-film buatan Malaysia lebih banyak yang menang diputar di festival-festival internasional ketimbang film Indonesia. Film karya Yasmin Ahmad, (film yang diputar dan didiskusikan dalam acara itu) termasuk film yang banyak memperoleh penghargaan di ajang internasional.

Tentang kemakmuran dan kemajuan ekonomi negeri tetangga itu, kita semua tentu saja sudah maklum. Tetapi tentang seni Malaysia yang lebih maju dari Indonesia, agaknya saya ketinggalan informasi. Tolong jangan disoraki jika saya merasa sedikit marah dan tidak terima. Bayangkan, ternyata bukan hanya perekonomian dan industri saja Indonesia tertinggal. Lalu apa yang membuat saya bangga menjadi warga negara Indonesia.

Bisa saja pendapat di pembicara salah. Tapi tentu saya tidak bisa membantah lantaran tak punya data. Filmnya tak sempat saya nikmati pula. Sebelum ini saya percaya Indonesia, negeri yang tidak bisa saya banggakan ini, boleh saja kalah pertumbuhan ekonominya. Kemakmuran rakyatnya boleh tertinggal. Pejabatnya kalah cerdas dari pejabat Malaysia, ukurannya rakyat Malaysia lebih makmur, dan negeri ini lebih terhormat dan mandiri di mata internasional. Tapi di bidang kesenian Indonesia lebih maju dari Malaysia. Kenyatannya tidak. Film-film Malaysia lebih banyak diputar di Indonesia. Film animasinya: Si Ipin dan Si Upin menjadi tayangan favorit anak-anak saya di rumah.

Melupakan kekecewaan ini, usai diskusi saya mengajak kawan karokean di mal. Satu lagu Rp2500. Kami bertiga masuk dalam satu boks kapasitas dua orang. Lantas nyanyi seperti kerasukan peri. Lumayan segar. Lantas makan. Tapi, astaga semua konter di food court area penuh pengunjung. Bahkan antrian memanjang mengingatkan pada antrian sembako atawa minyak tanah. Selera makan saya lungsur seketika. Jadi terpaksa cari makan di kedai kaki lima pinggir jalan. Lebih hemat, dan menghidupkan pedagang kecil. Uh, perjalanan ini mempertebal kepercayaan saya bahwa ternyata tidak mudah jadi Indonesia.