Senin, 25 Januari 2010

Impian Itu Indah, Mewujudkannya Itu Menyakitkan.

Jangan pernah takut untuk bermimpi. Ini pesan mulia film “Menebus Impian”. Pesan yang kelewat klise, bukan? Biarlah. Toh, tidak ada yang betul-betul baru di muka bumi ini. Mungkin demikian jawaban Hanung Bramantyo, sang sutradara.

Saya agaknya sepakat dengan Hanung. Lagi pula klise tidak selalu buruk. Dan, Puji Tuhan, film yang bakal tayang di bioskop pada April 2010 ini memang tidak buruk-buruk amat. Malah cenderung bagus. Saya suka pencahayaan film ini yang suram (dan agak-agak vintage, gitu) meski hampir-hampir meletihkan mata tapi jadi terkesan sangat riil (ditambah saya nontonnya memang versi DVD, dengan sound yang sangat tidak menawan. Makanya saya tidak akan menyinggung soal tata suara). Setting-nya di kawasan kumuh Jakarta. Kalau bukan Jakarta Barat, tentulah Jakarta Utara. Atau bisa juga Jakarta Timur. Di seluruh wilayah Jakarta ini selalu ada kawasan kumuh, bukan? Gang-gang sempit, got-got mampet, pelacur-pelacur murahan, ibu-ibu yang doyannya ngerumpi dan sesekali bertengkar, pencopet, bocah-bocah dekil.

Tokoh utama Nur Kemala (diperankan secara hampir mulus oleh Acha Septriasa) dan ibunya, Sekar (Dyah Ayu Pasha) tinggal di kawasan tersebut. Di sebuah rumah kontarakan sempit ujung gang yang sudah tentu sumpek. Sekar bekerja sebagai tukang cuci, atawa kerennya laundry. Sekalipun cuma tukang cuci, sakit-sakitan pula, Sekar ingin Nur tetap kuliah. Dia marah manakala mengetahui Nur malah pulang babak belur lantaran turut mengejar rampok yang nekat nodong kios warnet di siang bolong.

Biaya kuliah yang tak terbayar mendorong Nur mencari kerja sambil kuliah. Hanya, bisa ditebak, susahnya cari kerja sambil kuliah membuat Nur keluar dari bangku kuliah (Nur bilang cuti). Dia bekerja jadi pelayan di pub atas bantuan Mba Susi, pekerja malam yang tinggal sebelah rumah. Satu hari di warung langganannya Nur bertemu bertemu Dian (Fedi Nuril) yang menawarinya bisnis multi level marketing (MLM). Awalnya Nur menolak mentah-mentah ditawari bisnis ini. Tapi kesukaran mencari kerja akhirnya Nur mencoba. Maka latar belakang Nur mau mencoba terjun di bisnis ini jadi sangat-sangat logis.

Film ini mampu menggambarkan betapa sukarnya berjuang mencari anggota baru bisnis MLM. Bahkan kendati film ini bekerja sama dengan sebuah organisasi MLM, tapi tak terlihat mempromosikan kisah merdunya menjadi pebisnis MLM. Namun film ini tidak menjadi penuh ratapan, sebaliknya terselip humor yang getir. Semua kesukaran menjadi pebisnis MLM dimainkan Acha secara wajar.

Melalui film ini Acha tampak makin menunjukkan kematangannya. Memang dia tidak sepenuhnya bisa lepas dari karakter mellow-nya. Tapi siapa sih yang tidak jadi mellow jika kegagalan demi kegagalan terus menghantui? Karakter manja dan selalu ingin kelihatan cantik memang masih terasa. Toh ini tidak terlalu mengganggu. Yang aneh justru ketika Nur bertanya tentang pekerjaan Mbak Susi. Nur yang anak kuliahan dan hidup dikota besar jadi terlihat bodoh. Fedi Nuril mampu mengimbangi Acha sebagai seorang muda yang mapan berkat bisnis MLM.

“Aku beli rumah baru,” ujar Dian, dengan nada bangga yang pas.
“Oya, baguslah” sahut Nur, tanpa perlu mencibir sirik.

Sayangnya, seperti film-film Hanung lainnya, selalu verbal saat menyatakan ekspresi kesedihan atau kemarahan. Lihatlah Sekar yang selalu tampak murung, mencucurkan air mata. Seorang ibu pelanggan laundry yang mesti membentak-bentak, juragan gerabah yang harus melotot dan berteriak-teriak. Hanung pun agaknya keliru memilih Joshua Suherman dan Haykal Kamil untuk berperan sebagai penjaga warnet. Mereka terlalu ganteng dan bersih berada di tengah permukiman kumuh. Kalau pemilik warnet, pas sekali dimainkan oleh entah siapa bertampang Arab. Jaja Mihardja dan Dedi Sutomo menambah kekuatan film ini. Akting dan nada bicara Dedi Sutomo membuat saya jadi ingat sinetron TVRI “Rumah Masa Depan”.

Sabtu, 23 Januari 2010

Tema Besar yang Kehilangan Fokus

Peristiwa besar dan bersejarah selalu menggoda banyak pengarang mengabadikannya dalam karya mereka ketimbang peristiwa kecil dan dianggap tidak punya nilai sejarah. Terkadang begitu kuatnya godaan tersebut sehingga pengarang mengabaikan peristiwa-peristiwa kecil yang memicu dan melatari bergulirnya peristiwa besar. Inilah kiranya yang saya rasakan usai menikmati novel “Nanyian Kemarau” besutan Hary B Kori’un.

“Nyanyian Kemarau” bukan hanya menyajikan kembali kerusuhan berbau rasial yang menjadi sejarah kelam bangsa ini yang mewarnai masa peralihan dari periode Orde Baru ke zaman reformasi, tapi juga menyeret persoalan besar lainnya seperti pluralisme, pembalakan liar, perlawanan masyarakat adat, kekuasaan modal, kekerasan terhadap wartawan, kisah cinta antar etnik, sampai pengabdian seorang bidan desa. Dengan bahasa yang lugas dan penuturan sederhana sebenarnya saya sudah merasa cukup gembira menyambut terbitnya novel ini. Namun ketika saya mengingat begitu kompleksnya peristiwa yang menyusun cerita dan pesan besar yang ingin disampaikan novel ini, saya jadi ingin memeriksanya. Dan apa boleh buat ternyata saya menemukan novel ini jadi kehilangan fokus, sangat verbal, dan plot yang terkesan agak memaksa.

Novel ini memperalat Rusdi, tokoh sentral yang digambarkan jujur dan sangat teguh memegang idealisme, untuk menggulirkan cerita yang begitu kompleks tersebut. Dikisahkan, Rusdi yang seorang wartawan menjalin hubungan cinta dengan Pramithasari, seorang pengusaha muda keturunan Tionghoa yang menjadi narasumbernya. Hanya, dalam hubungan cinta yang demikian hangat tersebut Pramithasari, atau biasa disapa Sari, tidak pernah mengungkapkan kata cinta seperti yang rupa-rupanya sangat dibutuhkan Rusdi, sehingga lelaki itu kembali ke daerah asalnya Pekanbaru membawa hati yang patah. Di sana dia meneruskan profesinya sebagai wartawan. Rusdi berusaha mengungkap pembalakan liar yang menyeretnya pada kekerasan demi kekerasan yang membuat fisiknya cacat. Di sana pula Rusdi bertemu Aida, seorang bidan yang mengabdikan diri di daerah terpelosok. Mereka menikah meski hanya singkat lantaran Aida meninggal digerogoti tumor yang tumbuh pada tulang pinggulnya yang patah akibat insiden tabrakan mobil.

Pertemuan Rusdi dengan Sari terjadi secara tidak sengaja. Rusdi menggantikan rekannya mewawancarai dan menuliskan profil Pramithasari di majalah tempatnya bekerja di Jakarta. Sari merasa puas dengan profil yang ditulis Rusdi. Dari sana terjalin hubungan asmara. Begitu mudah dan menyederhanakan persoalan. Pembaca tidak diberitahu tulisan profil seperti apakah yang membuat Sari begitu puas dan terpesona sampai-sampai dia merasa perlu menghubungi dan mengajak kencan Rusdi. Saya kira jika tulisan profil tentang Sari dihadirkan tidak hanya akan membuat pembaca mengerti alasan Sari mengajak kencan Rusdi, tapi juga akan mendapatkan gambaran Sari secara lebih utuh. Sayangnya, ini tidak terjadi. Sehingga alur cerita terkesan tidak meyakinan.

Pilihan menggunakan teknik multinarator sebenarnya cukup menarik. Hanya, antara narator satu dan lainnya tidak memiliki keunikan karakter narator masing-masing yang jelas berbeda, sehingga pembaca seperti menghadapi pemaparan-pemaparan belaka tanpa menimbulkan letupan-letupan yang mampu membetot pembaca masuk dan terlibat secara emosi terhadap apa yang dialami tokoh-tokoh dalam novel ini. Ini saya kira karena pengarang kurang menggarap karakterisasi tokoh-tokohnya dengan baik. Tidak tergarapnya karakter tokoh-tokoh novel ini juga tampak pada dialog yang panjang-panjang penuh isi dan pesan dengan kalimat-kalimat yang rapi seperti dalam buku teks. Misalnya dialog pada adegan saat Rusdi memberi informasi tentang akan adanya pembantaian etnik Tionghoa lantas meminta Sari dan keluarganya supaya mengungsi ke luar negeri demi keselamatan, (hal 62-63).

Akibat berikutnya adalah plot jadi tidak dinamis. Banyak sekali peritiwa-peristiwa penting yang terjadi secara kebetulan. Dalam mendeskripsikan tentang kerusuhan Mei 1998 yang melanda Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, novel ini terasa sangat surat kabar, seperti ini:

Bahkan aku mendapat laporan bahwa di beberapa tempat, salah satunya Kebon Jeruk, ada satu keluarga, seorang ibu dan dua anak gadisnya, yang satu berusia 17 tahun dan adiknya berusia sekitar 13 tahun, diperkosa ramai-ramai. Sang ibu kemudian bunuh diri Karena tak bisa menolong anaknya dari perkosaan setelah dia sendiri diperkosa, sementara dua anaknya kemudian dilemparkan di ke api yang menjilat-jilat rumah mereka setelah diperkosa.

Namun banyak yang menyanggah bahwa telah benar-benar terjadi perkosaan massal terhadap wanita keturunan Tionghoa. Polda Metro Jaya jelas-jelas menolak adanya pekosaan itu, karena tak ada laporan dan ketika mereka mendatangi perumahan Pantai Indah Kapuk, tak ada satu orang pun yang mengaku. Kementerian Urusan Peranan Wanita juga menolak dan menganggap itu data yang salah dan sekadar isu. Namun beberapa LSM yang komit membela hak perempuan dan kasus itu mengatakan bahwa para korban diliputi krisis kepercayaan terhadap pemerintah.
(hal: 75).

Pemaparan serupa ini menempatkan novel sekadar mengulang kerja jurnalistik yang menutup ruang-ruang keserbamungkinan bagi hidup dan tumbuhnya tafsir baru yang unik dan segar sebagaimana hakikat karya sastra.

Tentu dari kekurangan-kekurangan tersebut pembaca juga menemukan sejumlah hal menarik yang bisa menjadi kekuatan novel ini. Kisah cinta antara Rusdi dengan Sari dan antara Rusdi dengan Aida yang digambarkan secara cukup indah. Sisik melik persoalan tanah ulayat yang berhadapan dengan kekuatan pemilik modal dalam mengeksploitasi hutan, deskripsi yang cukup detil mengenai wilayah-wilayah di pedalaman hutan Sumatera. Dan, bagi pembaca--terutama wartawan--yang gemar pada pesan moral, novel ini sangat berharga sebagai buku penuntun.

Judul Buku : Nyanyian Kemarau
Pengarang : Hary B Kori’un
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : 1, November 2009
Tebal : 243 Halaman

Senin, 18 Januari 2010

Tragika Rombongan Sandiwara Keliling Miss Titin


Arus modernitas yang semata bertumpu pada kekuatan modal sanggup menggilas apa pun tanpa perasaan. Kemajuan teknologi yang menjadi instrumen utama modernitas menggeser bahkan merontokkan nilai-nilai lama yang dianggap tidak efisien dan tidak bernilai jual. Maka kesenian tradisional, jika ia tak mau takluk dengan merubah bentuk, harus menghadapi kenyataan pedih ditinggalkan masyarakatnya.

Inilah tragika. Lantas, bagaimanakah sebuah tragika hilangnya tradisi sandiwara keliling mestinya disikapi? “Cincin Cinta Miss Titin” sebuah novel penulis produktif, Hermawan Aksan, mencoba menjawab pertanyaan yang menggelisahkan ini. Menjawab? Mungkin tidak terlalu tepat bahkan keliru sama sekali jika saya menafsirkan novel ini sebagai jawaban atas pertanyaan di atas.

Karena, novel ini sedikit saja menyinggung soal pergesekan antara kesenian tradisional dan arus modernitas dengan instrumen kemajuan teknologi yang menyebabkan tergerusnya kesenian tradisonal—dalam konteks novel ini sandiwara keliling. Tidak menjadikan pergesekan tersebut sebagai pemicu konflik. Bahkan ia hanya dijadikan latar—malah cenderung alat—untuk memunculkan efek dramatisasi novel berketebalan 200 halaman ini. Kalaupun terasa sebagai konflik, tapi tidak terasa seperti konflik lantaran dituturkan secara jernih—sebab itu terasa mengena—tanpa pretensi berlebihan.

Namun, bagi saya justru di sinilah kekuatan dan keasyikkan yang didapatkan dari membaca novel ini. Ia tidak datang meratapi kalahnya kesenian tradisional atas arus modernitas. Atau, berlaku sebaliknya dengan menyajikan heroisme yang kesiangan. Melainkan persoalan cinta tak sampai yang dituturkan secara wajar dan sederhana sekaligus penuh kelokan mendebarkan. Yakni cinta seorang remaja tanggung bernama Asep, kepada Titin, bintang sandiwara keliling yang dengan rombongannya tengah mampir manggung di desanya.

Asep mendapati hatinya berdebar-debar tidak seperti biasa, yang kemudian diidentifkasi sebagai perasaan cinta, manakala melihat ketelanjangan tubuh putih mulus Titin yang tengah mandi dalam keremangan subuh di kali Cidadap. Peristiwa inilah yang membawa Asep menjadi penggandrung sandiwara keliling. Lantaran sosok yang mendebarkan itu tak lain bintang sandiwara keliling yang singgah di desanya. Namun Asep hanya memendam perasaan cintanya mengingat dia hanya salah seorang penggemar bintang sandiwara keliling yang dipuja-puja orang seluruh desa itu. Ditambah usia Asep yang belum tujuh belas, sementara Titin merupakan perempuan yang mulai matang. Tetapi cinta toh tetap diperjuangkan sekalipun dengan bentuknya yang sederhana, yakni menjadi penonton setia sandiwara keliling, melukis sang pujaan, lantas memberikannya sebagai kado.

Novel ini tidak semata memotret kesenian tradisional sandiwara keliling beserta orang-orang yang menghidupinya—pemain dan masyarakat penonton—tapi juga mengangkat persoalan yang lebih luas, yakni perihal etika sosial bahkan tentang penindasan dan ketertindasan. Untuk yang terakhir ini mungkin saja tanpa disadari penulisnya ketika menulis novel ini.

Hermawan menghadirkan pesinden Titin yang cantik jelita, piawai memainkan bermacam peran di panggung tapi tetap tak jatuh menjadi stereotip pesinden yang gampangan dan bisa diajak tidur oleh pejabat desa, tanpa harus menggiring novel ini menjadi moralis. Bahkan ketika Titin membentak si pelatih tari yang meraba-raba dan meremat pantatnya. Titin memang bukan sinden biasa. Ia memiliki kesadaran feminisme dan kesetaraan. Seperti terlihat pada cita-citanya meneruskan pendidikan di ASTI (Akademi Seni Indonesia) meskipun tak pernah terwujud lantaran benturan ekonomi.

Sebagaimana Asep, Titin pun diam-diam ternyata menyimpan perasaan serupa kepada Asep. Perasaan cinta keduanya diungkapkan manakala Titin hendak pamit karena rombongan sandiwara yang dipimpin ayah Titin sendiri harus meneruskan perjalanannya. Sayangnya tidak diceritakan secara jelas apakah rombongan sandiwara keliling tanpa nama itu, kecuali berdasar nama sinden yang menjadi bintangnya, pulang ke daerah asal mereka di Sumedang atau singgah dan manggung di desa lain. Hanya disebutkan bahwa perginya rombongan sandiwara tersebut lantaran masyarakat yang datang menonton makin susut lantaran mulai masuknya televisi di desa mereka. Kehadiran televisi sebagai representasi kemajuan teknologi yang menyisihkan kesenian tradisional.

Seperti novel-novel Hermawan sebelumnya (“Dyah Pitaloka”, “Niskala”, dan Cinta Empat Bab) “Cincin Cinta Miss Titin” bergerak dengan alur yang lurus, jika ada yang sedikit berbeda novel ini dituturkan oleh dua penutur yakni Titin dan Asep secara selang seling. Saya kira teknik multinarator selain memperkaya sudut pandang, menyelamatkan novel ini dari kesan menjemukan, terutama ketika cerita lakon sandiwara yang dimainkan Titin dituturkan secara panjang lebar dan bertele-tele, juga percakapan yang berlangsung dalam mimpi Asep (hal 57-62).

Seumpama Hermawan lebih mengeksplor bagian yang mempertemukan Asep dan Titin, dan menghindari ending yang terkesan mendadak dan terlalu menyederhanakan persoalan, serta menyertakan setting waktu yang lebih rinci, tentu novel ini akan lebih menarik.

Data Buku
Judul Buku : Cincin Cinta Miss Titin
Pengarang : Hermawan Aksan
Penerbit : Kakilangit Kencana
Cetakan : 1, November 2009
Tebal : 202 Halaman

Jumat, 01 Januari 2010

Tahun Baru, Sampah Baru

Ke mana kamu melewatkan malam tahun baru? Turun ke jalan meniup terompet? Larut dalam kerumunan massa di pub, berjingkrak-jingkrak? Menggumamkan doa di masjid atau gereja? Atau membiarkan diri sendirian di kamar ditemani nyala sebatang lilin? Jika hal terakhir yang kamu lakukan, mungkin kita memiliki kegemaran yang sama pada keheningan, kesenyapan.

Ya, sore di penghujung Desember 2009 aku meninggalkan Jakarta menuju sebuah pelosok desa. Menemui seorang kawan di sana. Tapi aku rasa kedatanganku ke sana bukan dalam rangka untuk merayakan tahun baru. Melainkan sebuah lawatan yang biasa kulakukan saban beberapa bulan sekali. Meski pelosok ini hanya beberapa puluh kilo meter dari Jakarta, tapi ia tak tersentuh kendaraan umum. Jadi begitu bus menurunkan aku di tepi jalan, aku menunggu dia menjemputku menggunakan motor.

Dia telah menyiapkan jagung rebus, singkong rebus, ayam bakar, tomat, jeruk, pir, dan beberapa ekor lele. Kecuali buah pir dan jeruk, semua jenis makanan ini tidak ia beli dari toko, melainkan dari kebun dan kolam di halaman depan dan belakang rumahnya. Begitulah sambil bercengkarama ringan kami melahap makanan yang bebas dari bahan kimia itu di antara kolam dan kebun sayur mungilnya. Dan kurasa kami tidak menyinggung perihal tahun yang berganti dan orang-orang yang merayakannya dengan penuh histeria. Kami tak punya tradisi merayakan malam pergantian tahun. Dan sering merasa heran kenapa orang-orang demikian bersemangat merayakan pergantian tahun. Apakah yang mereka pikirkan tentang tahun baru?

Aku tidak pernah tahu persis. Yang pasti perayaan pergantian tahun baru, dari tahun ke tahun, ternyata tidak memberikan kesadaran pada mereka untuk merawat bumi yang makin renta dna rusak oleh ketidakpedulian mereka. Yang terjadi justru sebaliknya, sampah (puntung rokok, plastik bekas kemasan, botol-botol dan kaleng bekas minuman) berserakan di sepanjang jalan usai malam perayaan pergantian tahun.

Sabtu, 17 Oktober 2009

Cinta Empat Bab: Intrik di Dunia Penulisan


Kau adalah penulis. Kau akan merasa bahagia jika tulisanmu dimuat di media. Sekurangnya ada tiga hal yang membuatmu bahagia. Pertama, tulisanmu dibaca orang; kedua eksistensimu sebagai penulis diakui (setidaknya oleh redaktur media yang memuat tulisanmu) dan; ketiga memperoleh honorarium (meski kadang tidak sebanding dengan kerja kerasmu menulis ). Bohong besar jika ada penulis yang mengatakan bahwa dia menulis bukan untuk dibaca orang. Persoalannya menembus media massa (apalagi media besar) bukan perkara mudah, apalagi untuk para pemula.

Awal-awal menulis pada masa SMA dulu, saya punya sejumlah teman yang tulisannya mengalami penolakan terus menerus dari redaktur. Kirim lagi, ditolak lagi. Mereka putus asa, dan dengan kesal bilang sang redaktur tidak fair menilai tulisannya. Lantas mereka menuduh sang redaktur hanya memuat tulisan orang-orang yang berada dalam lingkaran (circle) dia. Mereka tidak percaya lagi dengan media. Bagi mereka dunia penulisan tak ubahnya dunia politik yang penuh intrik.

Ingatan inilah yang menyembul dalam pikiran saya saat membaca “Cinta Empat Bab”-nya Hermawan Aksan. Intrik-intrik dalam dunia penulisan yang dituduhkan kawan-kawan masa remaja saya seakan menemukan pembenarannya. Ita, dengan kekuasannya sebagai redaktur budaya sebuah media massa, seakan bisa mengatur nasib calon penulis. Dia menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dia dalam memuaskan kegemarannya bertualang cinta. Jon dan Yus adalah dua dari sekian banyak korbannya.

Demi tulisannya dimuat Yus rela menjadi selingkuhan Ita setelah perempuan itu merasa tak mungkin melanjutkan hubungan asmaranya dengan Jon. Di pihak lain Jon mengabaikan perhatian Nin, gadis yang memuja tulisan-tulisannya, dan terus mengharapkan Ita. Pada saat yang sama Nin berusaha menjauhi Yus yang diam-diam mendambakan Nin yang ternyata putri sang redaktur: Ita.

Gagasan yang diangkat novel ini sebenarnya cukup menarik dan punya potensi menjadi cerita yang sangat kompleks. Namun, dengan hanya terdiri dari empat bab, yang setiap babnya (rata-rata 30 halaman) dituturkan oleh empat tokoh berbeda, cerita jadi tak bisa bergerak leluasa dan pembaca kehilangan kesempatan melewati jalan-jalan curam penuh kelokan nan menegangkan. Dan lebih banyak menyuguhkan romantisme dunia penulisan yang hari-hari ini mungkin tidak relevan.

Tak banyak novel yang mengangkat seputar sisik melik dan intrik di dunia penulisan di Indonesia. Dengan adegan pembuka yang penuh aroma cerita detektif yang mampu membetot pembaca, semula saya hati saya berdebar-debar dipenuhi harapan novel ini akan mampu menghadirkan sisik melik dan intrik dalam dunia penulisan secara seru dan menarik. Harapan saya hampir saja terbukti seandainya cerita tidak dibelokkan ke persoalan cinta dan perselingkuhan. Saya menduga Hermawan melakukan hal tersebut lantaran persoalan cinta ini sebagai pilihan ia lebih sederhana dan tidak menuntut kerumitan, ketimbang intrik dan politik dunia penulisan. Namun karena menghindari kerumitan itulah cerita kemudian menjadi mudah kehilangan daya kejutnya. Menulis soal intrik politik di dunia penulisan memang memerlukan riset yang sabar dan mendalam. Sayangnya, novel ini tampaknya kurang dalam menggali tema itu kecuali dari pengalaman pribadi dan imajinasi pengarangnya belaka.

Dari sisi editing novel ini tampaknya digarap secara tergesa. Terlihat misalnya pada kalimat gang sempit, berliku-liku, kotor dan bau dan…dengan pemandangan berantakan khas kampung kumuh di tengah kota. Kalimat ini muncul secara berulang pada halaman 49 dan 63. Terdapat pula kalimat yang mendikte misalkan: wajah-wajah mereka memancarkan khas pengangguran. Kalimat ini bagi saya terlalu aus untuk mendeskripsikan kondisi fisik pengangguran yang penuh derita kemiskinan, kekumuhan..

Buku ini selain menampilkan novel pendek tersebut, memuat sejumlah cerpen Hermawan yang ditulis pada periode 1991-2000. Serta sebuah cerpen berlatar pewayangan yang dianggit pada 2007. Cerpen-cerpen Hermawan yang banyak mengangkat setting pedesaan dengan segala problematikanya menyarankan kebersahajaan yang enak dinikmati. Alam dan orang-orang pedesaan tidak selalu lekat dengan ketulusan dan kejujuran. Melainkan juga penuh intrik. Gaya berceritanya yang sederhana namun kuat dalam mendeskripsikan alam pedesaan mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Ahmad Tohari yang terhimpun dalam Senyum Karyamin dan Kuntowijoyo dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga.

Rabu, 30 September 2009

Pembauran dan Pembaruan Kesenian Tradisi

Barongsai. Kau tentu mengenal kesenian tradisional yang berasal dari daratan China ini. Singa barong? Burok? Singa barong berasal dari Subang dan daerah Sunda lainnya. Sedangkan burok mungkin agak asing jika kau bukan orang Cirebon. Menyebut burok kau mungkin teringat peristiwa Isra Mi’raj. Rasul Muhammad pernah mengendarai burok saat melakuan perjalanan yang dikenal dengan Isra Miraj. Ia sejenis ‘binatang’ berkaki empat, punya sayap, berkepala manusia secantik bidadari yang dilengkapi dengan mahkota berkilauan. Nah, kendaraan Rasul Muhammad ini rupaya menginspirasi masyarakat Cirebon ketika mereka menciptakan kesenian burok ini.

Sampai sekarang kesenian burok masih marak ditanggap masyarakat Cirebon kala hajatan menyunat anak lelaki mereka. Pengantin sunat naik di punggung burok dengan tangan berpegangan pada leher burok yang jenjang atau sayapnya yang gemerlapan. Burok akan bergerak-gerak, berjoget menghentak mengikuti irama lagu dari para sinden. Jika dulu lagu-lagu yang mengiringi adalah bernuansa religi, kemudian lagu-lagu khas cirebonan dengan alat musik sederhana yakni gitar dan suling. Maka kini sinden-sinden akan mengiringi kesenian burok dengan lagu-lagu dangdut yang tengah hit. Dan burok pun berjoget secara lebih ekspresif dan atraktif.

Kini kesenian burok rupanya telah mengalami ‘pluralisme’ juga. Rombongan kesenian burok yang ditanggap sepupuku saat sunatan anaknya usai lebaran kemarin, tidak hanya menyajikan burok. Mereka juga memiliki singa barong dan barongsai. Jadi ketiga kreasi seni yang berasal dari tradisi dan budaya yang berbeda ini tampil dalam saat dan panggung yang sama. Pengantin sunat secara berganti-ganti duduk di atas punggung singabarong, burok dan barongsai. Tapi tentu saat sang barongsai melakukan atraksi jumpalitan pengantin sunat tidak diperkenankan berada di punggungnya.

Sebagaimana burok, barongsai versi Cirebonan ini pun dimainkan hanya oleh dua orang. Barongsai yang merupakan perwujudan dari singa dan ular naga ini panjangnya pun jadi tidak sampai tiga meter. Para pemainnya bukan orang-orang bermata sipit, melainkan masyarakat Cirebon yang umumnya berkulit coklat tua. Barongsai bergerak, menari, melakukan atraksi dengan iringan musik cirebonan, bukan tambur, simbal dan kenong sebagaimana aslinya. Pembau-ran kesenian tradisonal ini sangat menarik untuk dilihat sebagai upaya kita memraktikkan demokrasi, pluralitas, dan merayakan perbedaan. Bukan hanya kesenian barongsai yang harus melakukan adaptasi-adaptasi, singabarong dan burok pun terus menerus melakukan penyesuaian-penyesuaian. Sayangnya saya tak membawa kamera untuk merekam sehingga kau tidak bisa melihatnya secara kongkrit.

Sabtu, 22 Agustus 2009

Ulasan atas kumpulan Cerpen "Lagu Cinta untuk Tuhan"

Jemu ber-facebook, secara iseng saya browsing nama saya di mesin pencari Google. Tak terduga ada ulasan atas kumpulan cerpen saya "Lagu Cinta untuk Tuhan" buku saya yang terbit 2005 oleh penerbit Logung Pustaka, Jogjakarta. Ulasan ini tampaknya untuk keperluan kajian ilmiah. Jadi penuh teori dan terasa kaku. Sekalipun begitu ini cukup menarik. Ditulis oleh seorang pengajar di sebuah Universitas di Surabaya, Jawa Timur.

Ulasan dimaksud saya turunkan di sini. Mungkin Ada yang ingin membacanya. Terima kasih.

Realita Kehidupan Sosial Dalam ”LAGU CINTA UNTUK TUHAN” Kumpulan Cerpen Karya Aris Kurniawan

A. Pendahuluan
Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat keyakinan dalam bentuk gambaran konkrit yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa (Sumardjo, 1988: 3). Cerita merupakan teks prosa yang mengisahkan keterlibatan sejumlah orang dalam sejumlah peristiwa. Suatu cerita akan menjadi cerita sastra apabila cerita itu bertentangan dengan pola pengharapan kita, serta memiliki kontras-kontras ironis yang menjadikannya suatu cerita yang bermutu (Luxemburg, dkk., 1991: 5-6).

Dalam memahami suatu cerita sastra aktivitas pembaca menjadi lebih intensif daripada memahami cerita sastra yang kurang berkualitas. Kegiatan pembaca juga dituntut dalam menerangkan lambang dan pola. Aktivitas pembaca didorong lebih kuat oleh bangun teks yang terdiri dari empat unsur, yaitu pengarang, pembaca, teks, dan dunia yang dikisahkan dalam teks. Pengarang mengarang suatu teks yang mempunyai hubungan tertentu dengan dunia nyata atau dunia yang mungkin ada (ibid.:7, 11).

Dalam hubungannya dengan dunia yang digambarkannya, suatu teks sastra dapat mengungkapkan hakikat pandangan manusia terhadap eksistensinya dan ideologi mengenai kemanusiaan yang dianut dalam masyarakat yang bersangkutan beserta situasi dan kondisinya dalam masyarakat (Teeuw, 1984: 10). Kumpulan cerpen Aris Kurniawan yang berjudul “Lagu Cinta untuk Tuhan” (2005) sarat akan pengungkapan realitas kehidupan masyarakat kita. Kedua puluh cerpen dalam kumpulan ini banyak mencitrakan berbagai macam realita kehidupan sosial kita yang selama ini entah kita sengaja atau tanpa kita sadari, kita singkirkan dari kesadaran kita, misalnya homoseksual, kekerasan seksual, kejahatan seksual pada anak-anak/sodomi, dan sebagainya.

Kedua puluh cerpen dalam kumpulan ini adalah: “Angelina”, “Episode Tanpa Babak”, “Lelaki Pemanggul Bunga”, “Kakek Marijan”, “Nokturno”, “Perempuan Eksperimen”, “Pertemuan Empat Bajingan”, “Sebuah Kota dalam Kepalaku”, “Sonia Menutup Gorden”, “Alam Sutra”, “Becak untuk Wardah”, “Bolehkah Kami Nongkrong di Pinggir Jalan, Tuhan?”, “Cerita dari Sebuah Rumah Sakit”, “Di Kebun Jepun”, “Kota Hujan”, “Lagu Cinta untuk Tuhan”, “Malam Kembang”, “Perempuan yang Ditelan Hujan”, “Petang di Taman”, dan “Tersesat di Pasar Malam”. Dari kedua puluh cerpen dalam kumpulan ini, yang sarat akan penggambaran realita kehidupan masyarakat secara unik adalah “Lelaki Pemanggul Bunga”, “Pertemuan Empat Bajingan”, dan “Becak untuk Wardah”.

Berdasarkan uraian di atas, makalah ini bertujuan untuk membahas permasalahan berikut ini:
1. Realitas kehidupan sosial apa yang ingin diungkapkan pengarang melalui ketiga cerpen tersebut dalam kumpulan cerpen “Lagu Cinta untuk Tuhan”?
2. Bagaimana penilaian atas ketiga cerpen dalam kumpulan cerpen “Lagu Cinta untuk Tuhan” berdasarkan kriteria ekspresivitas, emotivitas, dan realisme (Luxemburg dkk., 1989: 70-71)?

B. Kerangka Teori
1. Sastra dan Kenyataan
Sastra boleh dibaca, dinikmati, dan diapresiasi. Seorang penelaah sastra harus dapat menerjemahkan pengalaman sastranya dalam bahasa ilmiah dan menjabarkannya dalam uraian yang jelas dan rasional (Wellek dan Warren, 1995: 3-4). Karena setiap karya sastra memiliki ciri-ciri yang bersifat individual (khusus) dan umum, upaya untuk menguraikan karya sastra hanya dapat dilakukan secara universal jika didasarkan pada suatu teori sastra. Pemahaman dan apresiasi adalah syarat yang harus dipenuhi sebelum kita mengembangkan pemikiran terhadap karya sastra. Pemahaman ini dicapai melalui “membaca” secara kritis dan teliti (ibid: 9-10).
Selanjutnya Wellek dan Warren (1995: 109-114) menambahkan bahwa sastra “menyajikan kehidupan” dan “kehidupan” yang sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial, walaupun karya sastra juga “meniru” alam dan dunia subjektif manusia. Sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat (Luxemburg dkk., 1989: 12). Melalui karya sastra, keterlibatan sosial, sikap dan ideologi pengarang dapat diungkap karena pengarang adalah warga masyarakat memiliki pendapat tentang permasalahan atau kenyataan sosial dan politik yang penting dan sedang berkembang pada saat itu (Ratna, 2006: 302). Sedangkan Newton (1990: 125) mengatakan bahwa kita harus memahami bahwa perilaku sosial dan bahasa suatu karya sastra itu selalu berkaitan oleh karena itu karya sastra harus diteliti hubungan keberadaan masyarakat dan dunia karya sastra serta keberadan masyarakat dalam dunia dalam karya sastra.

Dalam hubungan antara sastra dan kenyataan, M. H. Abrams dalam Teeuw (1984: 50-53) menyatakan bahwa salah satu pendekatan kritik utama terhadap karya sastra adalah pendekatan yang menitikberatkan semesta yang disebut mimetik. Istilah mimetik berasal dari bahasa Yunani, “mimesis”yang sejak dahulu dipakai sebagai istilah untuk menjelaskan hubungan antara karya seni dan kenyataan atau “reality”. Dalam pendekatan ini, hubungan karya seni dan kenyataan menjadi ciri utama dalam penilaiannya. Seni harus mencerminkan kenyataan sosial sebagai alat untuk merombak kondisi masyarakat tersebut.Orientasi mimetik memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, atau pun representasi alam maupun kehidupan. Kriteria yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” representasi objek-objek yang digambarkan atau pun yang hendaknya digambarkan (Pradopo, 2003: 94). Pendekatan-pendekatan lainnya dapat menitikberatkan apa karya itu sendiri (objektif), penulis (ekspresif) dan pembaca (pragmatik). Keempat pendekatan tersebut pada masa-masa tertentu salah satu di antaranya seringkali menjadi yang dominan.

Masalah hubungan antara sastra dan kenyataan tidak hanya menyangkut masalah ilmu sastra tapi juga masalah filsafat, psikologi, sosiologi, dan lain-lain (Newton, 1990: Menurut Plato dalam Teeuw, dunia empirik tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekatinya lewat mimesis, atau pembayangan/peniruan. Sedangkan Aristoteles dalam Teeuw mengatakan bahwa seniman menciptakan dunianya sendiri, pandangan dan penafsiran kenyataan adalah yang dominan dan kepandaiannya didedikasikan pada interpretasi atau pemberian makna pada eksistensi manusia. Di samping itu, hubungan antara kenyataan (mimesis) dan kreasi/rekaan (creation) merupakan interaksi yang kompleks dan tak langsung. Membaca suatu teks satra dan menganggapnya sebagai pencerminan belaka adalah menyesatkan. Demikian pula sebaliknya, membaca teks sastra dan menganggapnya sebagai rekaan murni adalah juga menyesatkan (ibid: 219-229). Di samping itu, sastrawan memberi makna lewat kenyataan yang diciptakannya dengan bebas asal tetap dapat difahami oleh pembaca oleh ragam konvensi bahasa, konvensi sosio-budaya, dan konvensi sastra (ibid: 248).

2. Penilaian Karya Sastra
Untuk menilai karya sastra, Luxemburg dkk. (1989: 70-71) mengemukakan bahwa penilaian karya sastra dapat didasarkan atas beberapa kriteria, di antaranya adalah kriterium ekspresivitas, artinya sebuah karya adalah baik apabila pribadi dan emosi pengarang diungkapkan dengan baik. Kriteria berikutnya adalah kriterium intensi, artinya sebuah karya adalah baik bila intensi (maksud) pengarang diungkapkan dengan baik selaras dengan norma-normanya. Sedangkan kriteria realisme atau mimesis artinya sebuah karya sastra dinilai baik bila kenyataan diungkapkan dengan tepat, lengkap, dan menampilkan ciri-ciri yang khas. Kriteria ini berkaitan dengan kriteria kognitif yang mengukur mutu sebuah karya sastra berdasarkan pengetahuan yang disampaikan.
Kriteria berikutnya mengaitkan pendapat kritikus yang mempergunakan kriteria politik, religius, atau moral. Kalau penilaian didasarkan atas apakah sebuah karya memiliki kemampuan membangkitkan emosi para pembacanya berarti kriteria yang dimaksud di atas adalah kriterium emotivitas. Kriteria yang terakhir adalah kriterium struktur, artinya sebuah karya dikatakan baik apabila memperhatikan susunan, keberkaitan, dan kesatuan karya tersebut. Yang dipakai dalam meganalisan kumpulan cerpen ini adalah kriteria ekspresivitas, emotivitas, dan realisme karena kriterian ini yang berhubungan dekat dengan pendekatan mimesis.

Di samping itu, karya sastra merupakan ekspresi suatu sikap yang umum tentang kehidupan. Hal ini dapat menambah nilai artistik karya sastra karena mendukung beberapa nilai artistik penting seperti kompleksitas dan koherensi (Wellek dan Warren, 1995: 141, 152; Darma, 2007: 95). Damono (1983: 15) juga mengatakan bahwa seperti puisi, prosa memiliki daya tarik melalui unsur-unsur citra, simbol, kiasan dan paradoks, termasuk kepekaan pengarang terhadap perubahan sosial yang melibatkan nasib manusia yang mewakili pergeseran-pergeseran penting dalam nilai-nilai sosial.
C. Realitas Kehidupan Sosial dalam Kumpulan Cerpen “Lagu Cinta untuk Tuhan” Karya Aris Kurniawan

Sebagaimana yang dikemukakan di atas bahwa cerpen-cerpen dalam kumpulan ini banyak menggambarkan realita kehidupan masyarakat, terutama dalam ketiga cerpennya, yaitu “Lelaki Pemanggul Bunga”, “Pertemuan Empat Bajingan”, dan “Becak untuk Wardah”. Penggambaran realita tersebut dikemas dengan cara yang unik dan bisa dipastikan bahwa realita tersebut memang nyata ada dalam masyarakat kita meskipun realita tersebut amat jarang kita jumpai. Berikut ini adalah pembahasannya:

1. “Lelaki Pemanggul Bunga”
Dalam cerpen ini, dapat dikatakan masalah trauma masa kecil atas kekerasan yang dialami seseorang yang ingin dikemukakan pengarang. Trauma tersebut sulit hilang dan akan terus membayangi orang tersebut hingga dewasa. Hal ini nyata di dalam masyarakat. Banyak orang yang hidup dengan trauma tersebut. Ada yang berhasil menaklukannya, ada juga yang gagal. Banyak pelaku kejahatan sadis dan tak berperikemanusiaan yang memiliki trauma seperti itu, sebagaimana kutipan berikut:
Masalah lalu kita tidak begitu menggembirakan meski tidak terlalu kelam. Setiap hari kita disuguhi pertengkaran, caci maki, dan umpatan-umpatan paling busuk berhamburan dari mulut mereka. Bila ayah berucap sepatah, dibalas ibu sepuluh pantah. Lantas benda-benda apa saja, piring-piring, gelas, guci-guci keramik, patung-patung hias, akuarium akan beterbangan dan pecah berkeping-keping di lantai… Hmm, rupanya kau masih mengakui masa lalu yang entah harus kita simpan di mana. Ah masa lalu yang kadang suka bangkit dan minta dipahami kembali (hlm. 25-26).

Bahkan trauma itu bisa berubah menjadi suatu motif yang mewarnai perilakunya dan atas kekerasan dan bentuk kejahatan lainnya yang ia lakukan, sebagaimana kutipan berikut:
“Jangan kau jadikan masa lalu kelam sebagai pembenaran bagi kebiadabanmu.”
Hmm, aku tak sudi mendengar lanjutannya. Terlalu klise dan sok tahu. Siapa bilang aku sedang menjadikan masa lalu sebagai penolongku. Tidak. Ia cukup indah dan sama sekali bukan pembenaran untuk kepahitan yang aku alami … Masa lalu yang membuatku terangsang setiap mengenangnya (hlm. 28).

Ia akan mengulangi perbuatan keji tersebut bahkan dia mendapatkan “kenikmatan” setelah melakukannya. Ia akan berdalih bahwa ia hanya ingin membebaskan korbannya dari kemungkinan mengalami hal yang sama dengan dirinya, sebagaimana kutipan berikut:
Jangan kau bayangkan diriku seorang iblis yang meneteskan liur saat menatap bocah-bocah manis yang berhamburan bagai sekelompoklaron di kolong-kolong jalan layang, Kawan. Mataku merah bagai kelelawar yang memancarkan pijar api, tetapi lebih anggun dari iblis. Justru akulah malaikat yang ingin membebaskan mereka dari sengat matahari yang senantiasa memanggang tubuh mungil itu hingga gosong dan bersisik (hlm. 21).

Di sisi lain, orang tersebut akan selalu ingin melepaskan diri dari bayangan masa lalu dan saat itulah yang menurutnya sangat melegakan dan membahagiakan, sebagaimana kutipan berikut:

Maka sudahlah, kalau kau mau bunuh aku, lekaslah… Lekaslah, aku pun menantikan saat yang menurut kebanyakan orang sangat menegangkan. Aku sudah bosan memanggul bunga ke sana kemari (hlm. 29).

Di dalam masyarakat, hal seperti ini akan terus terjadi selama kekerasan terus ada dan membayangi serta menghantui siapa saja yang mengalaminya. Tidak mengherankan jika hampir tiap tahun kita menjumpai kejahatan yang fenomenal yang mana para pelakunya seringkali memiliki motif psikologis akibat trauma kekerasan yang mereka alami di masa lalu mereka, di samping motif ekonomi. Hal ini perlu mendapat perhatian kita. Suatu terapi psikologis bagi orang-orang seperti itu sangat penting untuk mencegah hilangnya nyawa orang-orang yang tak berdosa akibat kejahatan keji itu.

2. “Pertemuan Empat Bajingan”
Realitas kehidupan sosial yang ingin dikemukakan oleh pengarang adalah adanya konspirasi di dalam masyarakat untuk menghilangkan nyawa seseorang, terutama bagi orang-orang yang akan dapat membahayakan posisi seseorang yang memiliki status sosial ekonomi atau jabatan politis yang terpandang, terutama bagi yang telah melakukan kejahatan dan kebusukan yang berusaha mereka tutup-tutupi dari publik. Orang tersebut dikhawatirkan akan dapat membongkarnya sehingga mengancam statusnya. Orang-orang “terpandang” seperti ini akan selalu berkeinginan untuk mempertahankan statusnya dan berfikir untuk melenyapkan nyawa orang tersebut dengan melakukan konspirasi yang rapi tapi terselubung. Salah satu caranya adalah dengan menyewa pembunuh bayaran yang profesional di bidangnya, sebagaimana kutipan berikut:
Uang persekot dari bupati yang memberiku order yang kukerjakan malam ini. Order membunuh wartawan yang kata bupati sok menjadi pahlawan membongkar perselingkuhan bupati dengan biduan dangdut. Bupati memberiku waktu seminggu (hlm. 61).
Pembunuh bayaran ini dapat bekerja sendiri atau bekerja secara tim. Tim pembunuh bayaran ini terdiri dari orang-orang yang memiliki keahlian tertentu. Mereka bekerja sama dengan rapi untuk menuntaskan kerja masing-masing, sebagaimana kutipan berikut ini:

“Jadi begini, kita sengaja berkumpul di Santai Girang ini bukan untuk apa-apa, melainkan untuk membicarakan pekerjaan kita masing-masing… Memang kita mempunyai spesialisasi masing-masing, tapi siapa tahu, kan? Lagi pula pertemuan semacam ini untuk mempererat persauadaraan, tukar-menukar informasi, dan lain-lain (hlm. 67).
Realita ini juga kerap kali terjadi di dalam masyarakat. Beberapa orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, terutama hak-hak asasi manusia, meninggal dunia karena dibunuh dengan cara konspirasi yang cermat dan rapi seperti ini sehingga sulit sekali mengungkap siapa dalang pembunuhan tersebut. Dan hal ini akan terus terjadi selama kebenaran dan keadilan yang hakiki belum ditegakkan dan selama masyarakat masih lebih memuja status sosial ekonomi, status politis, dan sebagainya daripada kebenaran dan keadilan untuk semua golongan.

3. “Becak untuk Wardah”
Realita kehidupan sosial yang diangkat oleh pengarang melalui cerpen ini adalah persamaan gender (gender equity) dalam bidang sosial-ekonomi. Hal ini berarti bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat mencari penghidupan atau menjalani profesi apa pun. Seorang wanita dapat memiliki profesi yang biasanya dilakukan oleh laki-laki dan sebaliknya, sebagaimana kutipan berikut ini:

Dan tahun-tahun lewat sudah, Wardah terus menggayuh pedal becak.Sepasang kakinya yang panjang, kekar, hitam dan berkilat, turun naik dengan irama yang tetap(hlm. 96).
Hal ini dapat terjadi karena tekanan ekonomi atau memang merupakan pilihan hidup. Karena desakan ekonomi, seorang wanita misalnya, harus melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki. Pekerjaan yang dimaksud biasanya merupakan pekerjaan yang banyak membutuhkan kekuatan fisik, sebagaimana kutipan berikut:
Waktu kecil sebagaimana anak perempuan lainnya, Wardah tidakpunya cita-cita jadi tukang becak…Dan memang bapaknya hanya bisa memberinya warisan becak yang diserahkannya beberapa menit sebelum mati dilindas truk (hlm. 98).
Meskipun pada awalnya merupakan keterpaksaan namun pada akhinya, seseorang dapat menjadi tenaga yang trampil dan profesional di bidangnya, sebagaimana kutipan berikut:

Dengan tekun Wardah belajar mengayuh becak pada bapak. Mengayuh becak ternyata bukan perkara mudah, apalagi untuk seorang anak perempuan…pada usia 17 tahun baru Wardah menguasai benar bagaimana mengatuh becak secara menarik, indah, khusuk seperti sedang menghadap Tuhan (hlm. 99).

Orang-orang berfikir seandainya ada lomba mengayuh becak terindah, pasti Wardahlah pemenangnya … Wardah akan menggondol semua piala (hlm. 100).
Pekerjaan ini dapat dilakukan selama hayat hingga orang tersebut menghembuskan nafas terakhir ini, sebagaimana kutipan berikut ini:

Kini dia telah sampai ke angkasa …aku melihat Wardah di layar televisi meluncur dengan becaknya yang cemerlang keperakan di antara bintang-bintang (hlm. 104).
Kenyataan ini bisa kita temukan di dalam masyarakat, terutama masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. Kaum perempuannya kadang-kadang harus berprofesi seperti layaknya laki-laki karena tuntutan ekonomi.

D. Penilaian atas Tiga Cerpen dalam Kumpulan “Lagu Cinta untuk Tuhan”
Seperti yang telah dikemukakan di atas, penilaian atas tiga cerpen dalam kumpulan “Lagu Cinta Untuk Tuhan” didasarkan kriteria yang telah dikemukakan oleh Luxemburg, dkk. (1989, 70-71). Kriteria tersebut meliputi ekspresivitas, emotivitas, dan realisme. Berikut ini adalah hasil analisanya.

1. Segi ekspresivitas
Dari segi ekspresivitas, pengarang kumpulan cerpen ini mengungkapkan pribadi dan emosinya dengan cukup baik, sebagaimana kutipan berikut:
Masalah lalu kita tidak begitu menggembirakan meski tidak terlalu kelam. Setiap hari kita disuguhi pertengkaran, caci maki, dan umpatan-umpatan paling busuk berhamburan dari mulut mereka. Bila ayah berucap sepatah, dibalas ibu sepuluh pantah. Lantas benda-benda apa saja, piring-piring, gelas, guci-guci keramik, patung-patung hias, akuarium akan beterbangan dan pecah berkeping-keping di lantai…(“Lelaki Pemanggul Bunga”, hlm. 25).

Hari-hari terus merambat dengan cepat memakan apa saja yang dilintasinya dengan sengit. Bus-bus, truk, container, sepeda motor jetmatic, telah diparkirkan, para pengemudinya beristirahat sejenak untuk makan, sembahyang, nonton televisi, ngobrol bersama keluarga,bercanda, tidur, bercinta. Sementara Wardah terus melaju (“Becak untuk Wardah”, hlm. 96-97)

Hujan sudah reda. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu warna-warni. Sisa-sisa air menggenang di jalan berlubang. Angin berkesiur menampar pepohonan yang mengigil. Jalanan tidak seramai sore tadi. Toko-toko sudah banyak yang tutup. Salon para bencong yang biasanya sampai subuh, kini kelihatan gelap. Sebuah kios rokok di sudut pertokoan mebel itu masih buka dngan penjualnya yang duduk terkantuk-kantuk (“Pertemuan Empat Bajingan”, hlm. 58)

Namun ada beberapa hal yang diungkapkan secara berlebih-lebihan oleh pengarang, kecuali pada cerpen “Pertemuan Empat Bajingan”, sebagaimana kutipan berikut:
Kita tumbuh bersama perempuan kampung pengasuh kita yang gemar menyiksa binatang. Aku pernah melihat bagaimana kucing itu mati perlahan oleh tusukan pisau belati yang dipanaskan… Juga anjing kita yang lucu tewas diceburkan ke kolam dengan tubuh diganduli batu …rupanya dia terlalu banyak makan bawang dan tikus bakar…(“Lelaki Pemanggul Bunga”,hlm. 27).

Mereka melihat becak itu meluncur menerobos hutan, menyusuri padang gurun, membelah lautan … (“Becak untuk Wardah”, hlm. 97).

2. Segi emosivitas
Dari segi emotivitas, kumpulan cerpen ini karya memiliki kemampuan membangkitkan emosi para pembacanya, seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:
Waktu itu kita masih lima tahun dan belum mengerti kenapa malam itu ayah tiba-tiba mengemuk mendapati ibu terkapar di antara sekelompok lelaki. Bagai serigala ayah merenggut pedang pajangan di dinding dan membabatnya pada mereka. Kita mengigil dalam dekapan seorang perempuan kampong yang suka sekali makan cecak dan tikus baker (”Lelaki Pemanggul Bunga”, hlm. 26).

Diberinya Wardah kaus dan uang dua puluh ribu sehari selama seminggu menjelang pemilu. Ketika pemilu berakhir, dengan kemenangan partainya, politisi itu berteriak, inilah saatnya kaum miskin berkuasa.Inilah saatnya kaum borjuis menyerahkan diri pada kaum proletariat. Tetapi kemudian Wardah kecewa keika waktu berlalu dan tak ada perbaikan nasib apalagi untuk tukang becak. Nasib mereka malah makin terpuruk dengan naiknya BBM tiap tiga bulan, tarif listrik, biaya sekolah … (“Becak untuk Wardah” hlm. 102).

Dulu aku berpikir, Anan berkata begitu karena dia kaya, tidak pernah mengalami bagaimana rasanya lapar, tapi tdak ada nasi untuk dimakan. Sekolah dekat saja dia diberi uang saku lima puluh ribu. Padahal sudah sarapan pakai opor, roti selai, minum susu. Hidup memang tidak adil. Orang tuaku yang sudah kerja keras, banting tulang tiap hari tetap saja kere (“Pertemuan Empat Bajingan”, hlm.63).

3. Segi realisme
Tiga cerpen ini menggambarkan realitas kehidupan masyarakat secara baik. Ketiganya mengemukakan realita yang memang nyata dalam kehidupan sosial masyarakat. Realita tersebut dicitrakan dengan jelas, gamblang, apa adanya, meskipun kadang-kadang sangat bombastis dengan menggunakan majas hyperbole. Realita tersebut dipadu dengan kreasi atau rekaan pengarang. Jadi ketiga cerpen itu memiliki perpaduan antara dua unsur, yaitu realita (mimesis) dan rekaan (creatio).

Di samping itu, pada bagian akhir masing-masing cerpen itu terdapat “keterkejutan-keterkejutan” di luar ekspektasi para pembacanya yang dapat “mempermainkan” perasaan pembacanya, seperti dalam kutipan berikut ini:

Waktu yang diberikan Pak Bupati sudah habis, itu artinya aku batal mendapat dua puluh juta. Bangsat! Kuhantam tembok di depanku, tanganku terasa nyeri, sialan. Sedang kesal begitu, handphoneku berbunyi. Dengan geram kusambar.
“Halo! Kamu memang cerdas. Bisa kuandalkan. Kapan-kapan kita teruskan kerjasama ini. Oke, ceknya bisa kamu ambil besok di tempat biasa. Klek! Telepon ditutup. Aku terkejut beberapa saat tapi kemudian tersenyum puas setelah mnbaca koran hari ini:
“Seorang wartawan berinisial AI (24 tahun) ditemukan tewas di Santai Girang, sebuah rumah bordil yang berkedok warung kopi di jalan Raya Kesunyian No. 212, semalam.”(“Pertemuan Empat Bajingan”, hlm. 48).

E. Kesimpulan dan Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kumpulan cerpen “Lagu Cinta untuk Tuhan” karya Aris Kurniawan:

1. mengungkapkan kondisi sosial yang merupakan realita dalam masyarakat, terutama yang bersifat anomali dan paradoks, sebagai respons atas masalah-masalah sosial yang terjadi saat ini, dengan harapan akan adanya realita yang lebih baik (Darma, 2007: 129)

2. adalah baik berdasarkan kriteria ekspresitivitas, emotivitas, dan realisme.
Di samping itu, nampaknya pengarang memiliki kebebasan ekspresi diri sejara jujur dan apa adanya tentang realitas sosial di hadapannya. Tidak nampak adanya tendensi “politis” tertentu atau berpretensi memperjuangkan “ideologi” tertentu. Pengarang menunjukkan sikap kritis dan tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat dan masa depan mereka. Kumpulan cerpen ini merupakan karya yang memancarkan orisinalitas personal yang kreatif.

Daftar Pustaka
Damono, Sapardi Djoko. 1983. Kesusastraan Indonesia: Beberapa Catatan. Jakarta: PT Gramedia.
Darma, Budi. 2007. Bahasa, Sastra,dan Budi Darma. Surabaya: Jawa Pos Group.
Kurniawan, Aris. 2005. Lagu Cinta untuk Tuhan. Yogyakarta: Penerbit Logung Jaya.
Luxemburg, Jan van, Bal, Mieke, dan Westeijn, Willem G. 1991. Tentang Sastra. (Penerjemah: Akhadiati Akram). Jakarta: Intermasa.
Luxemburg, Jan van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Gramedia.
Newton, K.M. 1990. Interpreting the Text: A Critical Introduction to the Theory and Practice of Literary Interpretation. London: Harvester Wheatsheaf, A Division of Simon & Schuster International Group.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
Ratna, Nyoman Kutha. 2006. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sumarjo, Jacob dan Saini, K.M. 1991. Apresiasi Kesusatraan.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Teeuw, A. 1982. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Ilmu Sastra. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Wellek, Rene dan Warren, Austin. 2005. Teori Kesusasteraan (Terjemahan oleh Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Lampiran-Lampiran:
A. Sinopsis Cerpen-Cerpen dalam Kumpulan “Lagu Cinta untuk Tuhan” Karya Aris Kurniawan

1. “Angelina”
Fred, lelaki beristrikan Sophie, perempuan yang menurutnya tidak menarik karena bertubuh gembrot dan berkulit coklat tua, secara iseng berkunjung ke kafe yang sekaligus berfungsi sebagai galeri seni yang pada saat itu sedang menggelar pameran seni. Di sana ia bertemu dengan Angelina, salah satu pelukis yang sedang memamerkan lukisan-lukisannya. Bagi Fred, Angelina adalah sosok perempuan idamannya. Hubungan Fred dengan pelukis cantik itu semakin intensif dan intim sehingga menjadi suatu perselingkuhan. Hal ini diketahui Sophie secara diam-diam. Dia lalu membalas perselingkuhan suaminya dengan membayar seorang laki-laki muda dan tampan untuk berpura-pura menjadi pasangan selingkuhnya ketika Fred pulang ke rumahnya. Fred lalu pergi setelah menyaksikan pemandangan yang mengejutkannya. Dia lalu pergi ke apartemen Angelina, ternyata kejadian yang sama juga terjadi pada Angelina.

2. “Episode Tanpa Babak”
Atik, perempuan cantik dan eksekutif muda bersuamikan lelaki yang senang melakukan kekerasan fisik pada dirinya sesaat sebelum mereka bercinta. Di luar itu, lelaki itu adalah suami yang penyayang. Mereka menikah karena perjodohan orang tua Atik yang khawatir anak perempuannya menjadi perawan tua karena terlalu asyik menggeluti karirnya. Awalnya, Atik merasa amat tersiksa dengan semuanya ini dan ingin segera mengakhiri hidupnya. Lalu mereka akhirnya berpisah. Namun, seiring waktu berlalu, ternyata Atik sangat merindukan mantan suaminya dengan kekerasan seksualnya.

3. “Lelaki Pemanggul Bunga”
Lelaki itu tidak waras bahkan dia adalah sebenarnya seorang psikopat. Karena ketidakadaan kasih sayang orang tua dan kekerasan seksual yang dialaminya sejak kecil membuatnya gila seperti itu. Ia tidak hanya dapat bercinta dengan wanita, tapi juga dengan sesama jenis dan anak-anak. Karena keanehannya, dia dibuang oleh keluarganya. Dia paling senang jika bercinta dengan anak-anak ketika mereka meregang nyawa setelah dibunuhnya. Polisi berhasil menangkapnya atas kekejian yang telah lama dilakukannya. Dia tidak takut menghadapi kematiannya, bahkan inilah saat yang paling dia rindukan karena kematian adalah akhir dari penderitaan panjangnya.

4. “Kakek Marijan”
Kakek Marijan telah membunuh Parto, cucu yang disayanginya untuk membalas sakit hatinya atas perbuatan ayahnya yang merupakan anak menantunya. Anak menantunya ini seringkali melontarkan kata-kata yang menyakitkan dan menganggap dirinya tua bangka yang tidak ada gunanya. Dia juga kerap kali bertindak kasar kepada istrinya yang merupakan anak kandungnya. Setelah dibunuh, mayat cucunya itu ia buang ke selokan. Karena takut polisi mengetahui siapa pembunuh anak yang tidak berdosa itu di kemudian hari dan memasukkannya ke dalam penjara, ia lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meneggelamkan dirinya ke dalam selokan itu.
5. “Nokturno”

Seorang perempuan akhirnya membunuh lelaki yang telah menikahinya di rumah mereka sendiri, Sejak dulu ia tidak pernah menginginkan suatu pernikahan meskipun akhirnya ia melakoninya. Kekhawatirannya tentang kebebasan individunya akibat pernikahan akhirnya terbukti. Lelaki itu telah merenggutnya. Di samping itu, lelaki itu selalu menuntut kesetiaannya namun lelaki itulah yang akhirnya tidak setia. Dia lalu memutuskan untuk pergi dari rumah itu,

6. “Perempuan Eksperimen”
Seorang perempuan pelacur di suatu kelompok pelacuran yang sering melayani berbagai macam lelaki pada malam hari, tetapi pada siang hari dia adalah seorang eksekutif muda yang sangat sibuk tapi sebenarnya sangat kesepian.

7. “Pertemuan Empat Bajingan”
Empat bajingan, satu diantaranya perempuan sepakat untuk bertemu. Mereka adalah pembunuh bayaran dengan spesialisasi masing-masing. Pertemuan itu biasa mereka lakukan apabila mereka mendapat pesanan untuk membunuh seorang target. Kali ini targetnya adalah wartawati bernama Anan yang ternyata teman masa kecil bahkan pernah menjadi teman dekat salah satu dari mereka yaitu eksekutornya. Hal inilah yang membuat eksekutor tersebut menjadi galau. Kegalauan inilah yang membuat dia menunda-nunda mengeksekusi perempuan ini. Dia juga tahu teman lamanya ini adalah kekasih gelap Pak Camat. Suatu hari orang yang memesannya menelponnya dan menyatakan kepuasannya atas kerja tim pembunuh ini. Dia lalu melihat tayangan berita di TV bahwa wartawati itu telah tewas dibunuh, tapi sebenarnya bukan dia atau timnya yang melakukannya.

8. “Sebuah Kota dalam Kepalaku”
Seorang suami yang sekaligus ayah dari satu anak sedang melamunkan suatu kota di mana dahulu dia menghabiskan masa-masa romantismenya, kota kecil bersuasana tenang. Dia sangat merindukannya. Dalam lamunannya itu, dia bertemu dengan seorang perempuan bernama Wartini yang menunjukkan suatu kota yang mirip dengan kota yang dirindukannya. Suara tangisan anak kecil yang memanggilnya “Ayah” lalu menyadarkan lamunannya.

9. “Sonia Menutup Gorden”
Sonia adalah perempuan yang cantik dan menawan. Dia adalah ibu dari tiga anak. Suaminya meninggalkan mereka begitu saja. Suaminya pergi dengan kekasih yang dihamilinya entah ke mana. Sonia harus bekerja keras untuk menghidupi ketiga anaknya. Dia lalu bertemu dengan teman laki-lakinya semasa kecil di kampung halamannya. Laki-laki itu sudah beristri dan beranak namun sedang menghadapi masalah dalam rumah tangganya juga karena ketidakcocokan dengan istrinya. Keluarga lelaki itu tinggal di luar kota, setiap akhir pekan lelaki itu mengunjungi anak dan istrinya. Reuni itu lalu berubah menjadi percintaan dan perselingkuhan di antara mereka. Hampir tiap malam selama enam bulan ini, kecuali akhir pekan, laki-laki itu diam-diam di tengah malam menemui Sonia dan mereka bercinta, sebelum fajar menyingsing lelaki itu pergi meninggalkannya. Anak-anak Sonia juga menyayangi lelaki itu dan menganggapnya sebagai pengganti ayah mereka karena lelaki itu sangat penyayang. Ketika kemudian Sonia menuntut kejelasan status hubungan mereka akibat tetangganya yang mulai mencium perbuatan mesum mereka, lelaki itu menjawab bahwa mulai minggu depan dia dipindahtugaskan ke luar pulau.

10. “Alam Sutra”
“Alam Sutra” adalah kota tempat tinggal arwah yang penasaran. Seorang perempuan muda sedang naik taksi ke kota itu. Dia ingin memenuhi undangan Feri, teman dekatnya, yang mati bunuh diri. Perempuan itu merasa telah berjam-jam menaiki taksi itu, namun sopir taksi itu mengatakan baru setengah jam. Di tengah perjalanan, sopir tersebut memberi tumpangan kepada seorang perempuan lain, karena keisengannya mengakibatkan ia mati. Perempuan pertama tersadar bahwa “Alam Sutra” bukanlah tujuannya karena dirinya bukanlah roh yang penasaran, lalu dia mencoba menghubungi keluarganya melalui telepon genggamnya tapi tak ada signal. Kemudian dia merasakan tubuhnya sangat ringan dan melayang.

11. “Becak untuk Wardah”
Wardah adalah perempuan perkasa yang telah bertahun-tahun, semenjak remaja, menjadi pengayuh becak warisan ayahnya yang juga pengayuh becak yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dia sangat menikmati profesinya itu hingga akhir hayatnya. Baginya, menerima kehidupan yang telah digariskan Tuhan kepada dirinya adalah kebahagiaan dirinya yang hakiki. Dia lalu memjalaninya dengan jujur. Dia pernah dibujuk oleh kenalannya yang politisi untuk mencoblos partai yang sedang diperjuangkan politisi tersebut sambil memberinya kaos berlambang partai itu yang sarat dengan kata-kata yang nampak menjanjikan. Namun ketika partai itulah yang memenangkan pemilu, nasibnya tidak berubah. Bahkan tekanan-tekanan hidup semakin memberatkan kehidupannya. Dia masih memakai kaos itu, bukan karena dia adalah pendukung setia partai tersebut tetapi memang itu satu-satunya kaos yang dimilikinya sampai akhir hidupnya.

12. “Bolehkah Kami Nongkrong di Pinggir Jalan, Tuhan?”
Lelaki itu sering nongkrong di pinggir jalan sejak ditinggal pergi istrinya entah ke mana. Ketidakmampuan dan ketidakberdayaan dirinya sebagai lelaki dan banyak hal lainnya yang membuat istrinya akhirnya pergi meninggalkannya. Dia menyadari hal ini. Dia selalu menikmati pemandangan sore hari dengan beragam orang lalu lalang di hadapannya. Hal ini akan membawa ingatannya kembali ke istrinya. Dia lalu berharap bahwa suatu hari nanti setelah angin membawa kerinduan ini kepada istrinya dan lalu membawanya kembali ke dalam pelukannya.

13. “Cerita dari Sebuah Rumah Sakit”
Seorang laki-laki tiba-tiba jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Tak pernah terbayang sebelumnya kalau dia harus merasakan kehidupan di rumah sakit. Orang-orang terdekatnya datang mengunjunginya. Rasa kesepian menderanya dan bayangan kematian senantiasa mengikutinya. Keadaan sakit ini menyebabkan dia sering merenung. Dia lalu menyadari bahwa manusia itu terlalu disibukkan oleh dunianya masing-masing. Tanpa disadari, hal ini mengakibatkan manusia kehilangan kebebasannya.

14. “Di Kebun Jepun”
Kebun Jepun menjadi saksi bisu bagi berbagai percakapan dan perdebatan dari berbagai macam pasangan yang datang ke sana silih berganti untuk memadu kasih mereka.

15. “Kota Hujan”
Jack dan Fred adalah mantan narapidana yang ingin mengunjungi sesama mantan narapidana yang sekarang menjadi orang kaya di kota kecil ini bernama Sorta. Sorta adalah kepala sindikat perdagangan perempuan-perempuan ke luar negeri. Jack adalah pemimpin mereka ketika mereka masih dipenjara. Jack dan Fred dipenjara karena merampok, sedangkan Sorta dipenjara karena membunuh istrinya yang cantik dan manja setelah dia memergoki perempuan itu bercinta dengan pemuda lainnya. Tidak seperti Fred yang lemah dan penurut, Sorta adalah anak buah Jack yang paling muda dan sadis namun cerdas dan bernaluri tajam, tapi tidak setia. Sorta pernah bercinta dengan kekasihnya dan bahkan berencana untuk membunuh Jack namun gagal. Jack dan Fred harus menginap selama hampir sebulan di terminal sebelum Fred akhirnya melihat sosok bayangan yang pernah ia kenal dan saat ini sedang dicarinya. Akhirnya mereka bertemu Sorta di rumah seorang pengusaha yang baru saja dibunuh Sorta. Mayatnya masih di situ. Sorta melepas senyumnya kepada mereka dan dengan cepat menghilang di telan malam meninggalkan mereka berdua menyambut kedatangan para polisi yang datang dengan tiba-tiba.

16. “Lagu Cinta untuk Tuhan”
Rendi adalah seorang laki-laki banci yang dibuang oleh keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Sejak kecil ia memang merasakan keanehan pada dirinya dibanding saudara-saudaranya. Tidak hanya itu, ia sering dihukum ayahnya karena keanehannya. Ia sering dilanda kebingungan, kesepian an kesendirian. Oleh karena itu, ia sering membaca buku tentang psikologi dan berkonsultasi dengan psikolog untuk mencari tahu kenapa hanya dia yang punya keanehan itu. Dia tak pernah menginginkannya dan sering menyalahkan Tuhan atas takdir-Nya itu. Sebagai curahan hatinya, ia sering menulis surat-surat untuk orang-orang dekat yang amat dicintainya. Ia tumpahkan kerinduannya dan keinginannya untuk kembali berkumpul bersama mereka untuk menghabiskan sisa hidupnya. Tak jarang surat-surat itu hanya ia simpan seperti ia menyimpan segala perasaannya. Yang paling ia inginkan adalah mengirimkan suatu surat yang telah ia tulis kepada Tuhan karena nampaknya Ialah yang paling memahami dirinya.

17. “Malam Kembang”
Munawir adalah seorang pembunuh bayaran dan telah lama menjalani pekerjaan ini. Kekerasan hidup yang ia alami sejak kecil selama menjadi anak jalanan telah menempanya menjadi pembunuh bayaran yang handal. Tak ada yang tahu apa sebenarnya pekerjaaannya itu. Sebelum menjalani pekerjaan ini, dia pernah diberi pelatihan oleh sebuah LSM yang memang membantu para anak-aak dan orang-orang jalanan dan memberi ketrampilan-ketrampilan yang bermanfaat untuk kelangsungan kehidupan mereka, namun ia kembali ke dunia jalanan karena lebih “menjanjikan”. Kali ini dia mendapat pesanan dari seseorang untuk membunuh tokoh wanita LSM tersebut karena sering “vocal” menyuarakan ketidakadilan walikota yang lebih mementingkan para pemilik modal dibandingkan rakyat kecil. Wanita tersebut adalah wanita yang baik hati padanya. Orang kedua yang paling baik baginya setelah neneknya yang membesarkannya meskipun bukan neneknya yang sebenarnya, Ia adalah orang yang berusia lanjut ketika memungutnya di tepi jalan karena dibuang setelah dilahirkan. Berat baginya utuk melakukan pekerjaannya kali ini karena dia tidak pernh berniat untuk membunuh wanita itu. Ia menjadi pucat dan lemas ketika tiba-tiba berita di TV menayangkan tewasnya wanita itu karena dibunuh.

18. “Perempuan yang Ditelan Hujan”
Seorang laki-laki datag kembali ke kota dimana beberapa waktu yang lalu pernah dikunjunginya. Yang membawanya datang kembali ke kota ini adalah kenangan yang tak terlupakan dan sangat menyiksa dirinya. Dia selalu terkenang pada pertemuannya dengan seorang perempuan cantik secara tidak sengaja ketika perempuan itu sedang menangis meraung-raung di tepi jalan karena ditinggal kekasihnya yang telah memiliki perempuan lain pada saat hujan turun.

19. “Petang di Taman”
Seorang perempuan pergi ke taman pinggiran kota yang sejuk dan rindang atas saran kawannya untuk menghibur dirinya atau mengusir kesepiannya sejak ditinggal suaminya. Mereka belum dikaruniai anak meskipun mereka sudah lama menikah. Tiba-tiba datang seorang perempuan hamil datang kepadanya dan mengatakan kepada dirinya bahwa ia adalah pacar suaminya dan meminta seluruh harta suaminya. Di taman itu dia berharap menapat teman bicara. Di sana ia bertemu dengan seorang laki-laki berkursi roda. Perempuan iu berbohong dengan mengatakan bahwa suaminya juga berkursi roda dan malu bertemu orang lain. Sementara itu, laki-laki itu mengatakan bahwa istrinya sedang istirahat di rumah. Perempuan itu kemudian mengetahui bahwa ternyata laki-laki itu berbohong seperti dirinya. Istrinya sebenarnya seorang peragawati yang cantik dan setia, namun wanita karir yang mencampakkan dirinya karena kecacatannya itu.

20. “Tersesat di Pasar Malam”
Seorang laki-laki mengunjungi pasar malam. Dia merasakan keanehan-keanehan. Dia lalu menelusuri hampir setiap sudut pasar malam itu untuk mencari tahu apa sebenarnya kecurigaannya itu. Seorang ibu penjaga warung memberitahunya bahwa pasar malam ini adalah pasar malam yang ajaib. Ketika ia menyadarinya, ia ingin pulang saja. Tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya.

B. Tentang Pengarang
Aris Kurniawan, lahir di Cirebon, 24 Agustus 1976. Menulis sajak dan cerpen untuk Horison, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaharuan, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, dan sebagainya. Karya-karyanya juga terdapat dalam antologi kolektif, antara lain Tamansari (Festival Kesenian Yogyakarta, 1998), Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Sajadah Kata (Syamil, 2002), Bisikan Kata Teriakan Kota (DKJ-Bentang, 2003). Aktivitasnya terakhir sebagai Kurator Komunitas Kebon Nanas.


About Dy@h Rh
Bio-data
The writer’s name is Dyah Rochmawati, 38, a teacher. She has been teaching English for almost fifteen years at different levels of schooling since she graduated from IKIP Malang in 1994. At present she is one of the teacher staff in the English Education Department of University of PGRI Adi Buana University at Surabaya and furthering her study to get her master degree at the Department of Language and Literary education of the Surabaya State University at the same time. She is interested in the following areas: Discourse Analysis, Semantics, English Literature and TEFL. She has written some textbooks on those subjects, English poems and short stories (under her pen name, Dyra Hadi) but they have not been published yet. However, some of her papers and articles have been published in some nationwide journals

Sumber: http://dyahrochmawati08.wordpress.com/2009